Bab 1
Urgensi Dakwah

A.   Definisi Dakwah

Dakwah artinya: Penyiaran, propaganda, seruan untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran agama.[1] Dakwah juga berarti suatu proses upaya mengubah suatu situasi kepada situasi lain yang lebih baik sesuai ajaran Islam atau proses mengajak manusia kejalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu agama Islam.[2]
Menurut Al-Qur’an, dakwah adalah : Menyampaikan kebenaran di jalan  Allah Subhanahu wa Ta’ala  سبيل ربك  dengan metode  بالحكمة والمو عظة الحسنة  
Propaganda, mengajak atau menyampaikan sesuatu dapat disebut dakwah jika metode yang digunakan sesuai dengan ayat di atas, yaitu; Bilhikmah dan Mau’idzah Hasanah. Sedangkan yang menentukan hasil dari dakwah adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk[3]

Dari ayat di atas jelas bahwa, seorang da’ itu hanya berkewajiban untuk menyampaikan misi mulia yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sedangkan hasil akhir dari dakwahnya, hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tahu. Namun demikian seorang  da’i harus memiliki metode yang tepat, sehingga dakwah yang dilakukan sampai pada sasaran.

B.   Metode Dakwah
Metode artinya: Cara yang teratur dan sistematis untuk pelaksanaan sesuatu; cara kerja[4]. Metode juga berarti: Prosedur atau cara memahami sesuatu melalui langkah yang sistematis. Sedangkan dakwah adalah: Sebagaimana yang kami sebutkan di atas, yaitu menyampaikan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam.
Metode dakwah berarti : Suatu cara atau teknik menyampaikan ayat-ayat Allah dan Sunnah dengan sistematis sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Dakwah di zaman yang serba modern dan canggih ini diperlukan metode yang canggih dan modern pula. Sebab jika tidak adanya keseimbangan antara metode dakwah dan kondisi  zaman, maka materi dakwah yang disampaikan tidak sampai pada sasaran.
Sekarang ini kita hidup di era yang disebut dengan era persaingan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Semua aspek kehidupan di jalankan oleh mesin-mesin robot yang serba modern.
Umat ghairul Islam dalam menyampaikan dakwahnya di daerah transmigrasi sudah menggunakan pesawat terbang, sementara itu para da’i kita dalam menyampaikan dakwahnya di daerah tranmigrasi harus berjalan kaki yang membuat waktu tersita begitu banyak.
Menurut penulis metode dakwah itu ada dua, yaitu : Metode dakwah kultural dan dakwah kontemporer.

Dakwah Kultural
Dakwah kultural adalah : Dakwah yang dilakukan dengan cara mengikuti budaya-budaya kultur masyarakat setempat dengan tujuan agar dakwahnya dapat diterima di lingkungan masyarakat setempat.
Dakwah kultural juga bisa berarti: Kegiatan dakwah dengan memperhatikan potensi dan kecenderungan manusia sebagai makhluk budaya secara luas dalam rangka menghasilkan kultur baru yang bernuansa Islami atau kegiatan dakwah dengan memanfaatkan adat, tradisi, seni dan budaya lokal dalam proses menuju kehidupan Islami.[5]
Dakwah kultural ini hukumnya syah-syah saja asal tidak bertentangan dengan nilai-nilai syar’i yang sudah baku, misalnya masalah aqidah. Sebab apabila dakwah yang kita anggab kultural ini kemudian kita salah menafsirkannya, maka yang terjadi adalah kefatalan. Misalnya saja kita berdakwah dengan harus mengikuti budaya agama lain yang dapat menggugurkan nilai aqidah kita, maka dakwah semacam ini tidak boleh dilakukan.
Sejarah dakwah kultural sebagaimana yang dilakukan di awal Islam masuk ke wilayah Jawa, dimana bangsa Indonesia saat itu kaya dengan tradisi animisme dan dinamisme, maka para pelaku dakwah kita yang terlalu lentur dalam menjalankan dakwah kulturalnya mengakibatkan ajaran Islam yang sudah sempurnya menjadi terkotori oleh budaya setempat. Hal ini merupakan kesalahan fatal yang tidak boleh dicontoh dalam melakukan dakwah.
Semaraknya ibadah bid’ah yang ada sekarang adalah merupakan warisan dari metode dakwah kultural yang diterapkan tanpa memperhatikan nilai-nilai aqidah. Sementara itu bagi menggemar bid’ah yang merasa itu sudah benar sulit diingatkan. Demikian juga dengan ulama’ ahlul bid’ahnya, mereka tidak berani mengatakan yang sebenarnya bahwa ibadah yang dilakukan itu bertentangan dengan nilai nilai aqidah Islam. Semoga allah memberikan ampunan bagi para da’i kita,  yang kami yakin bahwa, mereka tidak punya tujuan untuk mewarisi bid’ah sebagaimana yang banyak di anut oleh kelompok ahlul bid’ah sekarang.
Dakwal kultural sebenarnya meruapakan metode yang baik untuk dilakukan baik di masyarakat desa maupun di lingkungan masyarakat kota, baik yang berfikiran primitif maupun yang sudah modern.
KH. Ahmad Dahlan termasuk sosok muballigh yang dalam menyampaikan dahwahnya dengan menggunakan metode dakwah kultural pada sekitar tahun 1912-san. Karena beliau menyadari bahwa metode dakwah yang tepat saat itu hanyalah metode dakwah kultural. Namun karena kehati-hatiannya dengan masalah aqidah, walaupun menggunakan metode dakwah kultural, tetap nilai-nilai Islam tidak terlukai oleh model dakwah yang dilakukan. Justru sebaliknya dengan dakwah itulah, maka beliau dapat membersihkan nilai-nilai ajaran Islam dari pengaruh budaya kultural setempat. Model dakwah kultural sebagaimana diterapkan KH. Ahmad Dahlan inilah yang harus kita contoh.

Dakwah Kontemporer
Dakwah kontemporer adalah: Dakwah yang dilakukan dengan cara menggunakan teknologi modern yang sedang berkembang. Dakwah kontemporer ini sangat cocok apabila dilakukan di lingkungan masyarakat kota atau masyarakat yang memiliki latar belakang pendidikan menengah ke atas.
Teknis dakwah kontemporer ini lain dengan dakwah kultural. Jika dakwah kultural dilakukan dengan cara menyesuaikan budaya masyarakat setempet, tetapi dakwah kontemporer dilakukan dengan cara mengikuti teknologi yang sedang berkembang.
Persaingan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, khususnya dalam bidang periklanan adalah,  merupakan tantangan bagi para da’i kita untuk segera berpindah dari kebiasaan dakwah kultural ke dakwah kontemporer.  Dakwah kontemporer yang dimaksud penulis adalah, dakwah yang menggunakan fasilitas teknologi modern sebagaimana iklan yang lagi semarak dewasa ini.
Al-Qur’an yang selama ini banyak disampaikan dengan cara tradisional, maka harus segera dirubah cara penyampaiannya, yaitu dengan cara modern dengan menggunakan teknologi yang sesuai dengan tuntutan zaman. Al-Qur’an sudah saatnya harus disampaikan dengan menggunakan metode cepat dan tepat, yaitu dengan cara menggunakan fasilitas komputer.
Munculnya teknologi di bidang komputer ini sebenarnya sangat membantu bagi para da’i dalam menyampaikan nilai-nilai Al-Qur’an dengan metode tematik. Walaupun kita sadari bahwa para da’i kita banyak yang tidak bisa meng-operasionalkan komputer dengan baik, sehingga banyak para da’i kita yang tidak mampu untuk membuka Holy Qur’an yang lagi berkembang  dewasa ini.
Munculnya Holy Qur’an, Holy Hadits dan beberapa CD kitab kutubut-tis’a merupakan kemajuan yang luar biasa bagi umat Islam umumnya dan para da’i pada khususnya  untuk segera direalisasikan kepada pada umat  yang selama ini dalam menggali Al-Qur’an itu dengan metode tradisional.
Dakwah yang menggunakan fasilitas mimbar hanya akan di dengar sebatas yang hadir pada acara tersebut. Lain halnya dengan dakwah yang menggunakan fasilitas teknologi elektronik seperti TV, internet dan teknologi modern lainnya, pasti akan lebih banyak manfaatnya.
Dari dua perbandingan di atas, maka dakwah kontemporer yang memanfaatkan teknologi modern lebih banyak manfaatnya dari pada dakwah kultural yang masih harus menyesuaikan dengan kondisi budaya masing-masing daerah.
Materi dakwah yang tepat untuk menghadapi masyarakat modern ini adalah materi kajian yang bersifat tematik. Artinya Islam harus di kaji dengan cara mengambil tema-tema tertentu yang sesuai dengan tuntutan zaman.
Sedangkan fasilitas yang tepat adalah dengan menggunakan media cetak dan elektronik. Kenapa demikian ? Karena dengan menggunakan media cetak dan elektronik hasilnya akan lebih banyak serta jangkauannya lebih luas.

C.   Materi Dakwah
Menurut penulis para da'i kita selama ini dalam menyampaikan materi dakwahnya ada dua macam, yaitu : Secara tektual dan kontektual.

Tektual
Dakwah tektual adalah: Metode dakwah yang dalam penyampaikan materi dakwahnya sesuai dengan teks al-Qur'an dan al-Hadits  dengan tidak mengurangi ataum menambah.
Seorang da’i tektual disini dalam menyampaikan materi dakwahnya sama sekali tidak mau menggunakan materi lain selain yang sudah ada dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Mereka tidak mau menggunakan dalil-dalil akal. Karena dalil akal dianggab dapat merusak aturan-aturan yang sudah diatur oleh Islam.
Menurut pengetahuan penulis bahwa seorang da’i tektual disini tidak hanya dari segi materi saja yang tektual, akan tetapi juga dari segi-segi lainnya. Misalnya saja; dari segi pakaian dan lain sebagainya, mereka langsung mencontoh orang Arab yang dianggabnya sebagai contoh langsung  dari Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam.
Sosok dan penampilan seorang da’i tektual ini biasanya kelihatan kaku dalam melakukan dakwahnya. Hal ini karena mereka tidak mau menerima kondisi sosial yang ada. Kondisi yang ada sekarang dianggabnya tidak sesuai dengan teks/ contoh aslinya.Termasuk dalam transportasi, misalnya: Mereka tidak mau menerima uang saat menyampaikan dakwahnya. Mereka menganggab haram hukumnya menerima uang dalam menyampaikan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:
ويا قوم لا أسألكم عليه مالا إن أجري إلا على الله وما أنا بطارد الذين ءامنوا إنهم ملاقو ربهم ولكني أراكم قوما

Dan (dia berkata): "Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui".[6]

Contoh lainnya adalah, dalam pakaian. Mereka sama sekali tidak mau menggunakan model-model pakaian ala barat atau timur (jas misalnya). Mereka menganggab pakaian ala barat atau timur itu tidak sesuai dengan teks Islam aslinya. Mereka lebih senang menggunakan pakaian sebagaimana pakaian yang biasa digunakan oleh orang-orang Arab (jubah) dari pada bangsanya sendiri.
Masih banyak hal-hal lain yang membuat penampilan para pelaku dakwah tektual ini menjadi kaku di dalam menjalankan dakwahnya.

Kontektual
Dakwah kontektual adalah: Metode dakwah yang dilakukan dengan cara memperhatikan hal-hal yang ada diluar tek aslinya. Para pelaku dakwah kontektual melakukan metode ini dengan harapan agar dakwahnya lebih mudah dierima oleh masyarakat yang terdiri dari berbagai macam dan model.
Para pelaku dakwah kontektual dalam melakukan dakwahnya selalu memperhatikan situasi dan kondisi yang akan di dakwahi. Mereka dalam menyampaikan materipun tidak terlalu tektual. Akan tetapi mereka dalam menyampaikan materi juga menggunakan dalil-dalil akal untuk memperjelas dalil-dalil nakli/ tek asli ayat al-Qur’an atau al-Hadits yang ada.
Para pelaku dakwah kontektual biasanya lebih flexible/ lentur dalam menjalankan dakwahnya. Misalnya saja dalam hal menerangkan pakaian menurut Islam. Mereka mengatakan bahwa : Islam tidak memerintahkan kepada hambanya agar berpakaian seperti orang Arab sebagaimana yang disampaikan para pelaku dakwah tektual. Akan tetapi mereka menyampaikan bahwa dalam berpakaian itu yang penting menutup aurat dan laki-laki tidak menyamai perempuan serta sebaliknya. Sedangkan model dan warna pakaian terserah masing-masing.
Masih banyak hal-hal yang membuat keduanya itu berbeda. Dari perbedaan-perbedaan inilah maka timbullah kontroversi pemahaman yang sulit untuk disatukan. Dan dari modal yang tidak sama inilah, maka timbullah model-model masyarakat/komunitas Islam yang warna-warni sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini

D.  Media Dakwah
Mimbar
Mimbar merupakan media dakwah yang paling populer dimasyarakat, baik masyarakat pinggiran maupun masyarakat perkotaan. Mimbar biasa digunakan pada saat khutbah Jum'at, Idul Fitri, Idul Adha dan pengajian-pengajian hari besar Islam baik di Kampung maupun di masjid-masjid, bahkan di hotel-hotel atau di gedung-gedung.
Tujuan khutbah dengan menggunakan mimbar adalah agar jama'ah dapat lebih terfokus pada satu pandangan. Mimbar biasanya di buat lebih tinggi dari lantai dengan tujuan agar penceramah bisa melihat secara langsung kepada jama'ah. Masjid-masjid besar biasanya menyediakan media elektronik diluar masjid dengan tujuan agar jama'ah yang berada diluar masjid tetap dapat melihat yang khutbah.
Dari segi model mimbar ada dua macam, yaitu: Mimbar bertangga (terbuka) dan mimbar tidak bertangga (tertutup). Mimbar yang memiliki tangga biasanya yang khutbah membawa tongkat[7] sedangkan mimbar yang tidak bertangga yang khutbah tidak membawa tongkat.

Media Cetak
Media cetak pada era dewasa ini telah bermunculan bagaikan munculnya jamur di musim hujan. Baik majalah, koran ataupun buletin lainnya. Hal ini merupakan wujud nyata dari sebuah era informasi dan keterbukaan.  Oleh sebab itu alangkah baiknya jika para muballigh mampu memanfaatkan media-media cetak yang ada itu di sebagai sarana untuk merdakwah.
Melihat persaingan media cetak yang begitu hebat, maka para muballigh kita hendaknya segera menyiapkan diri untuk menjadi penulis-pebulis handal sehingga mampu bersaing dalam amar ma'ruf nahi munkar di bidang mediacetak, mengingat media cetak merupakan media informasi yang cukup banyak peminatnya.
Media cetak yang berkembang selama ini lebih berpegang pada keterbukaan dan kebebasannya. Mereka dipacu oleh kebutuhan sensasi, iklan dan kebutuhan bisnisnya. Dan inilah prablem besar bagi para pelaku dakwah selama ini.

Radio
Radio merupakan media informasi yang hingga sekarang masih memiliki cukup banyak pemirsa. Mengingat radio merupakan alat informasi yang fleksibel, kecil dan dapat dibawa kemana-mana. Oleh sebab itu alangkah bermanfaat jika radio penuh dengan siaran-siarang yang mengajak kepada pemirsa untuk menjalankan kebaikan serta meninggalkan keburukan (amar ma'ruf nahi munkar )
Pesawat radio sering kali kita jumpai diputar semalam suntuk di warung-warung kopi, pos-pos jaga serta mobil-mobil, bahkan tidak jarang tukang becak selalu memutar radio sambil menunggu penumpang. Oleh sebab itu alangkah bermanfaatnya jika radio-radio yang diputar selalu membawa pesan dakwah.

Televisi
Televisi merupakan media informasi sekaligus media hiburan yang dapat di jumpai dimana-mana, baik di rumah kecil maupun di rumah mewah, baik di warung-warung kopi maupun di restauran-restauran.
Televisi merupankan media informasi yang bersifat netral, seperti pistol. Jika pistol di tangan orang jahat, maka pistol akan gunakan untuk menembak orang yang tidak bersalah. Namun jika pistol itu ditangan polisi yang beriman dan bijak, maka pistol itu akan digunakan untuk melindungi orang-orang benar.
Televisi merupakan media audio-visual, yang juga sering disebut sebagai media pandang dengar. Artinya televisi itu selain dapat kita dengar juga bisa kita lihat secara langsung. Oleh sebab itu alangkah besar manfaatnya jika televisi itu lebih banyak menyuguhkan siaran-siaran yang mampu merubah kondisi pemirsa dari kondisi yang tidak baik menjadi kondisi yang lebih baik.

Celluler
Celluler merupakan media informasi yang cukup canggih dan gaul. Hal ini nampak dari begitu banyaknya pemakai celluler, mulai dari pengusaha kelas atas hingga pengusaha kelas bawah, bahkan tidak sedikit para remaja pengangguranpun, pelajar yang mereka belum memiliki panghasilan yang  menggunakan celluler.
Melihat begitu semaraknya celluler, maka alangkah besar manfaatnya jika celluler dimanfaatkan sebagai media dakwah, yaitu dengan cara memanfaatkan fasilitas Multimedia Messaging Service (mms) sebagai media untuk mengirin pesan-pesan normatif . Dengan ber-mms- kita dapat berdakwah dengan biaya yang murah.

Film
Film dapat memberikan pengaruh yang cukup besar kepada jiwa manusia yang sedang memirsanya. Di saat sedang menonton film, terjadi suatu gejala yang menurut ilmu jiwa sosial sebagai identifikasi psikologis. Ketika proses decoding terjadi, para penonton kerap menyamakan atau meniru seluruh pribadinya dengan salah seorang peran film.
Melihat pengaruh film begitu besar kepada jiwa yang sedang menontonnya, maka alangkah besar manfaatnya film itu, jika dijadikan sewbagai media untuk berdakwah.
Selain media-media yang penulis sebutkan di atas, masih banyak media-media lain yang dapat kita jadikan sebagai sarana untuk berdakwah.























Bagian 2
Materi Pokok Dakwah

Berbicara tentang dakwah Islam tidak dapat dilepaskan dari sumber pokok ajaran Islam, yaitu al-Qur'an dan al-Hadits serta ijtihad. Karena dari ketiganyanya itu merupakan sumber pokok ajaran Islam yang tidak boleh dilepaskan ketika berbicara masalah Islam. Islam boleh dibicarakan di kampus, masjid rumah, kantor, pasar atau tempat-tempat lainnya, asalkan materi dasar, yaitu al-Qur'an, al-Hadits serta ijtihad tidak sampai ditinggalkan. Oleh karena itu penulis akan memberiakn sedikit tentang definisi al-Qur'an, al-Hadits dan Ijtihat.

1.   Al-Qur'an.
Al-Qur'an adalah : Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang diwahyukan secara bertahab sesuai dengan peristiwa yang dialami oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alahi wa Sallam sebagai penerima wahyu.
Menurut bahasa kata Al-Qur’an merupakan bentuk masdar yang makna sinonimnya kata qiro’ah yang artinya bacaan.
Menurut Muhammad Salam Madzkur[8] Al-Qur’an ialah : Lafal Arab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallauhu ‘Alahi wa Sallam yang di nukil secara mutawatir, termaktub dalam mushaf, dimulai dari surat Al-Fatihah diakhiri dengan surat An-Nas dan membacanya adalah ibadah.
Mayoritas  ulama’ mengatakan bahwa kata Al-Qur’an itu adalah lafal masdar yang semakna dengan lafal qiraa’atan, ikut wazan fu’lana yang diambil dari lafal: Qara’a- yaqra’u- qiraa’atan dan seperti lafal: Syakara-sukraana dan Ghafara-Ghufraana dengan arti kumpul atau menjadi satu. Sebab huruf-huruf dan lafal-lafal ada kalimat-kalimat Al-Qur’an yang terkumpul menjadi satu dalam mushaf. Dengan demikian, kata Qur’an berupa mahmuz yang hamzahnya asli dan nun-nya zaidah (tambahan). [9] Contohnya seperti firman Allah :

إن علينا جمعه وقرءانه فإذا قرأناه فاتبع قرءانه
Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.[10]

Menurut Iman Syafi’i, bahwa lafal Qur’an itu merupakan isim murtajal, yaitu isim yang sejak mula diciptakannya sudah berupa isim alam (nama), yakni nama dari kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alahi wa Sallam dan selalu disertai dengan Alif lam atau al. Jadi, jadi bukan termasuk isim mahmuz atau isim musytaq, serta tidak pernah lepas dari al (alif dan lam).[11]
Al-Qur’an adalah kitab suci yang memiliki nilai kebenaran paling tinggi bila dibandingkan dengan kitab suci lainnya.  Ia merupakan resep hidup bahagia dunia sampai akhirat. Al-Qur’an juga merupakan harta karun yang tidak akan pernah habis kandungan mutiaranya.
Al-Qur'an tidak hanya membicarakan tentang masalah amal baik dan jelek atau surga dan neraka. Akan tetapi al-Qur'an juga membicarakan tentang dinamika alam, fenomena alam, diantaranya tentang bentuk bumi itu bulat, orbit bumi, rotasi bumi serta tatasurya lainnya. Dan masih banyak lagi yang ada dalam al-Qur'an dan itu tidak dimiliki oleh kitab-kitab suci lainnya.
Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan hanya untuk manusia saja, melainkan untuk seluruh alam semesta. Oleh sebab itu pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu hanya untuk manusia itu kurang tepat, sebagaimana firman-Nya:
وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.[12]

Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern yang menyebabkan banyak manusia kesulitan dalam menyisihkan waktu untuk menuntut ilmu, maka Al-Qur’an harus dikaji secara tematis dan sistematis, sehingga dengan waktu yang sedikit dapat menghasilkan hasil yang maksimal serta sesuai dengan kebutuhan rahani hamba-Nya.
Tematis yang penulis maksud disini adalah: Al-Qur'an hendaknya kita kaji sesuai dengan tema-tema yang menjadi tuntutan umat saat ini, sebagaimana al-Qur'an di turunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sesuai dengan kebutuhan Nabi Muhammad Shallalahu 'Alahi wa Sallam waktu itu. 
 Sistematis yang penulis maksud disini adalah : Hendaknya al-Qur'an itu dikaji secara teratur; teratur sesuai dengan system (tafsili). Sedangkan sistem yang dipakai oleh sebagaian umat Islam dalam mengkaji al-Qur'an selama ini adalah sistem mengkaji al-Qur'an dengan memperhatikan sebab turunnya (asbab an-nuzul ) dan ada juga yang berdasarkan urutan surat yang dimulai dari al-Fatihah hingga an-nas.
Dengan mengkaji al-Qur'an secara tematis dan setematis berarti al-Qur'an akan lebih terasa fleksibel dalam memenuhi tuntutan ruhani bagi umat yang mengimaninya. Sedangkan mengkaji al-Qur'an dengan menggunakan sistem turunnya atau berdasarkan urutan surat itu sudah kurang tepat untuk kondosi umat sekarang.

Al-Qur'an kitab Suci yang Fleksibel
Al-Qur'an adalah wahyu Allah yang berfungsi sebagai mu'jizat bagi Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam :
قل لئن اجتمعت الإنس والجن على أن يأتوا بمثل هذا القرءان لا يأتون بمثله ولو كان بعضهم لبعض ظهيرا

Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".[13]
وإن كنتم في ريب مما نزلنا على عبدنا فأتوا بسورة من مثله وادعوا شهداءكم من دون الله إن كنتم صادقين فإن لم تفعلوا ولن تفعلوا فاتقوا النار التي وقودها الناس والحجارة أعدت للكافرين

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.[14]

Ayat-yat di atas merupakan garansi resmi dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, bahwa al-Qur'an adalah mu'jizat yang tidak akan dapat dibuat atau ditiru oleh hambanya.
Selain sebagai wahyu bagi perjalanan hidup Rasulullah, al-Qur'an juga diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai peringatan bagi hamba-Nya:
وإنه لتنزيل رب العالمين نزل به الروح الأمين على قلبك لتكون من المنذرين بلسان عربي مبين
Dan sesungguhnya Al Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.[15]

Semua hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala wajib mematuhi semua peringatan-peringatan yang ada dalam  al-Qur'an agar hidupnya senantiasa berada pada jalan yang benar.
Al-Qur'an merupakan kitab suci yang sangat fleksibel dalam mengatur urusan hambanya. Kefleksibelan al-Qur'an terlihat dari isi yang terkandung di dalamnya.  Isi al-Qur'an banyak mengemukakan pokok-pokok serta prinsip-prinsip umum pengaturan hidup dalam hubungan antara manusia dengan Sang Kholiq, manusia dengan manusia, manusia dengan makhluk lainnya. Di dalamnya terdapat peraturan-peraturan seperti:

Beribadah langsung kepada Allah :
وأقيموا الصلاة وءاتوا الزكاة واركعوا مع الراكعين
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orang-orang yang ruku.[16]




Hidup berkeluarga:
وإن خفتم ألا تقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع فإن خفتم ألا تعدلوا فواحدة أو ما ملكت أيمانكم ذلك أدنى ألا تعولوا
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.[17]

Hidup bermasyarakat:
إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمانات إلى أهلها وإذا حكمتم بين الناس أن تحكموا بالعدل إن الله نعما يعظكم به إن الله كان سميعا بصيرا

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.[18]

Berdagang:
الذين يأكلون الربا لا يقومون إلا كما يقوم الذي يتخبطه الشيطان من المس ذلك بأنهم قالوا إنما البيع مثل الربا وأحل الله البيع وحرم الربا فمن جاءه موعظة من ربه فانتهى فله ما سلف وأمره إلى الله ومن عاد فأولئك أصحاب النار هم فيها خالدون
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.[19]






Utang-piutang:
ياأيها الذين ءامنوا إذا تداينتم بدين إلى أجل مسمى فاكتبوه وليكتب بينكم كاتب بالعدل ولا يأب كاتب أن يكتب كما علمه الله فليكتب وليملل الذي عليه الحق وليتق الله ربه ولا يبخس منه شيئا فإن كان الذي عليه الحق سفيها أو ضعيفا أو لا يستطيع أن يمل هو فليملل وليه بالعدل واستشهدوا شهيدين من رجالكم فإن لم يكونا رجلين فرجل وامرأتان ممن ترضون من الشهداء أن تضل إحداهما

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki diantaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (Tulislah mu`amalahmu itu), kecuali jika mu`amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.[20]

Warisan:
كتب عليكم إذا حضر أحدكم الموت إن ترك خيرا الوصية للوالدين والأقربين بالمعروف حقا على المتقين
Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapa dan karib kerabatnya secara ma`ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.[21]

Pendidikan:
فبما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك فاعف عنهم واستغفر لهم وشاورهم في الأمر فإذا عزمت فتوكل على الله إن الله يحب المتوكلين
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.[22]
وليخش الذين لو تركوا من خلفهم ذرية ضعافا خافوا عليهم فليتقوا الله وليقولوا قولا سديدا
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.[23]

Pidana:
ياأيها الذين ءامنوا كتب عليكم القصاص في القتلى الحر بالحر والعبد بالعبد والأنثى بالأنثى فمن عفي له من أخيه شيء فاتباع بالمعروف وأداء إليه بإحسان ذلك تخفيف من ربكم ورحمة فمن اعتدى بعد ذلك فله عذاب أليم
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.[24]

Dan masih banyak lagi aspek-aspek lainnya yang jika kita mengikutinya akan mendapat petunjuk.
قل ياأيها الناس إني رسول الله إليكم جميعا الذي له ملك السموات والأرض لا إله إلا هو يحيي ويميت فآمنوا بالله ورسوله النبي الأمي الذي يؤمن بالله وكلماته واتبعوه لعلكم تهتدون

Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk".[25]
وما أرسلناك إلا كافة للناس بشيرا ونذيرا ولكن أكثر الناس لا يعلمون
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.[26]

Kefleksibelas al-Qur'an dapat dilihat dari beberapa ayat di atas, bahwa al-Qur'an itu tidak hanya sekedar berbicara masalah urusan akhirat atau persoalan surga dan neraka, melainkan juga bicara soal urusan kehidupan dunia, sosial, keluarga,hukum, negara dan lain-lainnya.

Bahasa Al-Qur'an
Al-Qur'an yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sejak 6 Agustus 610 M. sampai sekarang masih tetap hebat baik isinya, tata bahasanya masih tetap ideal karena sesuai dengan gramatika bahasa Arab yang mengacu pada tata bahasa yang benar.
Kehebatan bahasa al-Qur'an ini tidak dimiliki kitab suci lainnya. Kitab suci lainnya sudah tidak asli lagi sebagaimana bahasa awalnya. Bahasa kitab suci lainnya sudah banyak yang direfisi pada edisi tertentu. Sedangkan kitab suci al-Qur'an tidak sedikitpun yang dirubah, masih asli sebagaimana bahasa turunnya.
Bahasa al-Qur'an adalah bahasa mu'jizat. Keindahan bahasa dan kerapian susunan katanya tidak dapat ditemukan pada buku-buku Arab lainnya.  Dengan bahasa yang ringkas, padat tetapi dapat dengan mudah dimengerti adalah salah satu ciri bahasa al-Qur'an.
Dengan bahasanya yang begitu indah itulah, maka shahabat Nabi Umar bin Khattab masuk Islam setelah mendengar adiknya Fathimah membaca awal surat ath-Thaha. Sementara itu seorang diplomat Quraisy yang bernama Abul Walid tidak mampu berdiplomat setelah Rasulullah membaca surat Fshshilat.
Masih banyak lagi yang membuktikan bahwa, bahasa al-Qur'an itu adalah bahasa mu'jizat. Misalnya: Abu Jahal musuh besar Rasulullah tidak jadi membunuh setelah mendengar surat Dhuha dari pembawa wahyu, yaitu Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam.
Sebagai garansi bahwa bahasa al-Qur'an itu adalah bahasa wahyu yang tidak akan mampu dibuat oleh manusia, maka Allah menantang kepada seluruh hambanya untuk membuat satu sarat saja yang bahasanya memiliki makna sebagaimana al-Qur'an.
وإن كنتم في ريب مما نزلنا على عبدنا فأتوا بسورة من مثله وادعوا شهداءكم من دون الله إن كنتم صادقين فإن لم تفعلوا ولن تفعلوا فاتقوا النار التي وقودها الناس والحجارة أعدت للكافرين

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.[27]

Sejarah Kodifikasi Al-Qur'an
Proses kodifikasi dan penulisan al-Qur'an dilakukan sejak Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam masih hidup. Begitu menerima wahyu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alahi wa Sallam langsung memerintahkan kepada para shahabat untuk mencatat secara hati-hati. Para shahabat begitu selesai mencatat langsung menghafalkan serta mengamalkannya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga akan menjamin al-Qur'an dari upaya-upaya pemalsuan dan campur tangan manusia-manusia yang membencinya.
إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.[28]

إن علينا جمعه وقرءانه فإذا قرأناه فاتبع قرءانه ثم إن علينا بيانه
Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.[29]

Al-Qur'an telah dikumpulkan dalam mushhaf tersendiri sejak khalifah pertama, yaitu Abu Bakar ash-Shddiq. Kemudian pada masa khalifah ketiga, yaitu Utsman bin Affan al-Qur'an diperbanyak. Dan sampai saat ini al-Qur'an yang asli itu masih ada.
Dalam rangka untuk menghindari kesalahan bacaan maupun tulisan, maka upaya selanjutnya yang dilakukan adalah membuat tanda baca, mengingat pada masa penulisan pertama al-Qur'an tidak diberi tanda baca ataupun titik.
Dalam perkembangan selanjutnya tumbuhlah beberapa macam tafsir al-Qur'an yang ditulis oleh para ulama'-ulama' Islam, yang sampai saat ini sudah lebih dari 50 tafsir al-Qur'an. Dan selanjutnya menyusul ilmu-ilmu al-Qur'an lainnya.


Ilmu-ilmu al-Qur'an
Diantara ilmu-Ilmu yang membahas hal-hal yang berkaitan dengan al-Qur'an adalah : Ilmu Mawathin Nuzul, yaitu ilmu yang membahas tentang tempat-tempat turunnya al-Qur'an, Ilmu Asbabun Nuzul,yaitu ilmu yang membahas sebab-sebab turunnya al-Qur'an, Ilmu Tajwid, yaitu ilmu yang membahas tentang teknik membaca al-Qur'an, Ilmu Gharibil Qur'an, yaitu ilmu yang membahas kalimat-kalimat yang asing dalam al-Qur'an, Ilmu Wujuh wa Nadzar, yaitu ilmu yang membahas tentang kalimat yang mempunyai banyak arti dan makna dalam al-qur'an. Ilmu Amtsalil Qur'an, yaitu ilmu yang mempelajari tentang perumpamaan-perumpamaan dalam al-Qur'an, Ilmu Aqsamil Qur'an, yaitu ilmu yang mempelajari tentang maksud-maksud sumpah Allah  dalam al-Qur'an dan masih banyak lagi.[30]

Isi al-Qur'an
Al-Qur'an terdiri dari 30 juz, 114 surat; 6236 ayat. 91 surat turun di Makkah dan 23 surat turun di Madinah. Pendapat lain 86 turun di Makah dan 28 di Madinah. Surat yang turun di Makah dinamakan surat Makiyah sedangkan yang turun di Madinah dinamakan surat Madaniyah. Surat yang turun di Makah pada umumnya suratnya pendek-pendek sedangkan yang turun di Madinah panjang-panjang. Surat Makiyah lebih banyak membicarakan masalah aqidah dan akhlak sedangkan surat Madaniyah lebih banyak mengatur hubungan antara manusia dengan manusia, antara manusia dan makhluk hidup lainnya.

2. Al-Hadits/ As-Sunnah
Hadits
Kata hadits secara etimologi berarti "komunikasi, cerita, percakapan baik dalam konteks agama atau dunia atau dalam konteks sejarah atau peristiwa dan kejadian aktual.[31]
Arti lain, hadits berarti: baru, seperti kalimat "Allah Qadim mustahil hadits". Juga berarti  dekat, seperti "Haditsul ahdi Islam" dan juga berarti khabar, seperti " Falya'tu bi haditsin mitslihi".
Menurut Shubhi al-Shalih, kata hadits merupakan bentuk isim dari kata tahdits yang berarti: memberitahukan, mengabarkan. Berdasarkan definisi inilah, maka segala perkataan, perbuatan atau penetapan yang disandarkan kepaa Rasulullah disebut Hadits.[32]
Imam Taqiyyuddin ibn Taimiyyah memberikan definisi, yaitu: Seluruh yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam sesudah kenabian beliau, yang terdiri atas perkataan, perbuatan dan ikrar beliau.[33]
Dari definisi di atas Ibnu Taimiyyah memberikan batasan, bahwa yang dinyatakan hadits adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi setelah Nabi diangkat menjadi Rasul, yang terdiri atas perkataan, perbuatan dan taqrir-Nya. Sedangkan perbuatan, perkataan dan taqrir sebelum diangkat menjadi Rasul bukan termasuk hadits.
kata hadits dalam al-Qur'an disebut sebanyak 23 kali dalam bentuk mufrad atau tunggal dan 5 kali dalam bentuk jama'. [34]
Mayoritas Ulama' ahlul Hadits mengartikan, Hadits adalah: Segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alahi wa Sallam dari perkataan, perbuatan, taqrir ataupun sifat.[35]

Bentuk-bentuk Hadits
Berdasarkan pengertiannya secara terminologis, Hadits dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:

Hadits Qauli :
هي الأ حاديث التي قالها الرسول الله عليه وسلم في مختلف الأغراض والمنا سبات
Seluruh Hadits yang diucapkan Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam untuk berbagai tujuan dan dalam berbagai kesempatan.

Hadits Fi'li
هي الأ عمال التي قام بها الرسول صلى الله عليه وسلم
Yaitu seluruh perbuatan yang dilaksanakan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam.

Hadits Taqriri
وهي أن يسكت النبي صلى الله عليه وسلم عن انكر قول أوفعل صدر أمامه أوفي عصره وعلم به وذلك اما مموافقته أواستبشاره أو استحسانه واما بعدم انكارهوتقريره
Hadits taqriri adalah diamnya Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam dari mengingkari perkataan atau perbuatan yang dilakukan dihadapan beliau atau pada masa beliau dan hal tersebut diketahuinya. Hal tersebut adakalanya dengan pernyataan persetujuan beliau atau penilaian baik dari beliau, atau tidak adanya pengingkaran beliau dan pengakuan beliau.

Sunnah
Secara etimologi sunnah berarti :

الطر يقة المستقيمة والسيرة المستمرة حسنة كانت أوسيئة
Jalan yang lurus dan berkesinambungan, yang baik atau yang buruk[36]

Kata sunnah berarti jalan atau tradisi, sebagaiman firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : سنة من قد أرسلنا  yang artinya: "(Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami "[37]

وما منع الناس أن يؤمنوا إذ جاءهم الهدى ويستغفروا ربهم إلا أن تأتيهم سنة الأولين أو يأتيهم العذاب قبلا
Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlaku pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata.[38]

Kata sunnah juga terdapat dalam Hadits, sebagaimana Hadits di bawah ini:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من سن سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها بعده لاينقص ذلك من اجورهم شيئا ومن سن سنة سيئة كان عليه وزرها ووزرمن عمل بها لا ينقص ذلك من أوزارهم شيئا
Bahwa Rasulullah SAW. bersabda: Barangsiapa yang merintis suatu jalan yang baik, maka ia akan memperoleh pahalanya dan juga pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya; tidak mengurangi yang demikian itu akan pahala mereka sedikitpun. Dan siapa yang merintis jalan yang buruk, ia akan menerima dosanya, dan juga dosa-dosa orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.[39]

Melihat teks di atas dapat disimpulkan bahwa antara Hadits dan Sunnah memiliki pengertian yang berbeda. Kalau hadits lebih menitik beratkan kepada berita, kabar atau perbuatan yang di sandarkan kepada Nabi. Sedangkan sunnah lebih menitik beratkan kepada praktik ibadah yang dilakukan oleh Nabi.
Secara terminolnologis, para ulama kita berbeda dalam memberikan definisi tentang sunnah.

Muhadditsin  (Ulama' Hadits)
Menurur Ulama' Hadits, Sunnah berarti:
هي كل ما أثر عن الرسول صلى الله عليه وسلم من قول أوتقرير أوصفة خلقية أوخلقية أوسيرة سواء أكان ذلك قبل البعثة كحنثه في غار حراء أم بعدها
Sunnah adalah setiap apa yang ditinggalkan (diterima) dari Rasulullah shallallahu 'Alahi wa Sallam berupa perkataan, perbuatan, taqrir, sifat fisik atau akhlak atau perikehidupan, baik sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, seperti tahannus yang beliau lakukan di Gua Hira', atau sesudah ke-Rasulan beliau.

Menurut definisi Ulama' Hadits di atas, Hadits sama dengan Sunnah. Hal ini karena mereka memandang Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam sebagai panutan dan contoh teladan bagi manusia dalam kehidupan ini, seperti yang dijelaskan Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam al-Qur'anul Karim yang berbunyi :
 لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.[40]

Dengan demikian, para Ulama' Hadits mencatat seluruh yang berhubungan dengan kehidupan Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam, baik yang mempunyai kaitan langsung dengan hukum syara' maupun yang tidak itu termasuk Sunnah.

Fuqaha'  (Ulama' Fiqih)
Ulama' Fiqih mendifinisikan Sunnah sebagai berikut:

هي كل ما ثبت عن النبي صلى عليه وسلم ولم يكن من باب الفرض ولا الواجب
Yaitu, setiap yang datang dari Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam yang bukan fardu dan tidak pula wajib.

Alasan Ulama' dalam memberikan definisi di atas adalah karena sasaran pembahasan mereka ialah hukum syara' yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf, yang terdiri atas: wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah.[41]

Peranan Hadits dalam hukum Islam
Hadits merupakan sumber ajaran dan hukum Islam, sebagaimana al-Qur'an. Oleh karena itu menggunakan Hadits sebagai dasar hukum dalam Islam adalah wajib, sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Tala'ala:
ياأيها الذين ءامنوا ءامنوا بالله ورسوله والكتاب الذي نزل على رسوله والكتاب الذي أنزل من قبل ومن يكفر بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر فقد ضل ضلالا بعيدا
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.[42]

من يطع الرسول فقد أطاع الله ومن تولى فما أرسلناك عليهم حفيظا
Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.[43]

ياأيها الذين ءامنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا
Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.[44]

Mentaati Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan mengikuti segala apa yang ada dalam al-Qur'an dan mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam dengan mengikuti apa yang ada dalam sunnahnya/ al-Hadits.
Memperhatikan teks Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di atas, maka dapat diambil kesimpulan, bahwa Hadits mempunyai kedudukan yang sangat tinggi sebagai sumber hukum Islam. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan pahala yang besar kepada hambanya yang beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya. Sebagaimana Firman-Nya :
فآمنوا بالله ورسله وإن تؤمنوا وتتقوا فلكم أجر عظيم
Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar. [45]

Hadits menempati peringkat yang kedua sebagai sumber hukum setelah al-Qur'an. Meskipun demikian, tidak mengurangi nilai Hadits, karena keduanya, baik al-Qur'an maupun Hadits pada hakikatnya sama-sama berasal dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebagaimana Firman Allah :
وما ينطق عن الهوى إن هو إلا وحي يوحى
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),[46]

Al-Qur'an dan as-Sunnah merupakan sumber hukum syara' yang tidak dapat dipisahkan  keduanya. Tidak mungkin seseorang mampu memahami hukum dengan baik, melainkan harus memahami keduanya, yaitu : al-Qur'an dan al-Hadits/ as-Sunnah.

Fungsi Hadits terhadap al-Qur'an
Pada dasarnya Hadits sejalan dengan al-Qur'an, karena keduanya bersumber dari wahyu. Fungsi Hadits terhadap al-Qur'an dapat dibagi menjadi tiga,[47] yaitu:

1.      Menegaskan kembali keterangan atau perintah yang tedapat dalam al-Qur'an. Seperti, kewajiban shalat, zakat, puasa, haji dan lainnya yang termuat dalam Hadits beliau :
بني الاسلام على خمس شهادة أن لا اله الا الله وأن محمدارسول الله, واقا م الصلاة وايتاء الزكاة وصوم رمضان وحج البيت من استطاع اليه سبيلا.
Dibangun Islam atas lima fondasi, yaitu: Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu adalah Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa bulan Ramadhan dan menunaikan haji bagi yang mampu.[48]

2.      Menjelaskan dan menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an yang datang secara mujmal, 'am dan muthlaq. Seperti menjelaskan tatacara shalat yang benar, jumlah raka'at, serta waktu dalam shalat. Demikian juga menjelaskan tentang ibadah haji, zakat dan lainnya. Dalam hal ini Hadits berfungsi sebagai bayan tafsir. Contoh Hadits tentang tatacara melaksanakan shalat :
صلوا كما رأيتموني أصلى
Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat[49]

3.      Menetapkan hukum-hukum yang tidak ditetapkan oleh al-Qur'an, yang sering disebut dengan bayan tasyri' . Seperti ketetapan Rasulullah tentang haramnya mengawini wanita sesaudara sekaligus.
لا تنكح المرأة على عمتها ولا على خا لتها ولا ابنة أختها ولا ابنة أخيها
Tidak boleh dinikahi seorang perempuan bersama (menjadikan istri sekaligus) dengan makcik (saudara perempuan ayah) nya, dan tidak juga dengan bibi (saudara perempuan ibunya)nya, dan tidak dengan anak perempuan saudara perempuannya atau anak perempuan dari saudara laki-lakinya.[50]

Ketentuan sebagaimana isi Hadits di atas tidak dimuat dalam al-Qur'an. Ketentuan yang ada hanyalah larangan terhadap suami yang memadu istrinya dengan saudara perempuan sang istri, sebagaimana di jelaskan dalam Firman-Nya:
حرمت عليكم أمهاتكم وبناتكم وأخواتكم وعماتكم وخالاتكم وبنات الأخ وبنات الأخت وأمهاتكم اللاتي أرضعنكم وأخواتكم من الرضاعة وأمهات نسائكم وربائبكم اللاتي في حجوركم من نسائكم اللاتي دخلتم بهن فإن لم تكونوا دخلتم بهن فلا جناح عليكم وحلائل أبنائكم الذين من أصلابكم وأن تجمعوا بين الأختين إلا ما قد سلف إن الله كان غفورا رحيما
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,[51]

والمحصنات من النساء إلا ما ملكت أيمانكم كتاب الله عليكم وأحل لكم ما وراء ذلكم أن تبتغوا بأموالكم محصنين غير مسافحين فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن فريضة ولا جناح عليكم فيما تراضيتم به من بعد الفريضة إن الله كان عليما حكيما
Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu ni`mati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.[52]

3.  Ijtihad
Definisi Ijtihad
Ijtihad adalah mencurahkan segenab kemampuan akal secara maksimal untuk mendapatkan sesuatu keputusan hukum tertentu yang tidak ditetapkan secara eksplisit dalam al-Qur'an dan as-Sunnah. Juga bisa berarti : Menggunakan fikiran dalam mengartikan, menafsirkan dan mengambil kesimpulan dari suatu ayat atau Hadits.
 Rasulullah pernah bersabda kepada Abdullah bin Mas'ud : "Berhukumlah engkau dengan al-Qur'an dan as-Sunnah, apabila sesuatu persoalan itu engkau temukan pada dua sumber tersebut. Tetapi apabila tidak engkau temukan pada dua sumber itu, maka ijtihadlah".
Kepada Ali bin Abi Thalib Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam bersabda: "Apabila engkau berijtihad dan ijtihadmu betul, maka engkau mendapatkan dua pahala. Tetapi apabila ijtihadmu salah, maka engkau hanya mendapatkan satu pahala".
Salah satu dasar dari ijtihad adalah Firman Allah :
ياأيها الذين ءامنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا
Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.[53]

Kedudukan Ijtihad
Ijtihad memiliki perbedaan sebagai sumber hukum jika dibandingkan dengan al-Qur'an dan Sunnah, sebab ijtihad tidak dapat menetapan keputusan yang mutlak absolut. Ijtihat hanya merupakan produk akal fikiran manusia yang sifatnya relatif. Karena dari produk yang relatif, maka hasilnyapun juga relatif.
Ijtihad memiliki ruang dan waktu yang berbeda, mungkin berlaku bagi seseorang dan tidak berlaku bagi orang lain, mungkin berlaku ditempat tertentu dan tidak berlaku ditempat lain, mungkin berlaku pada kelompok tertentu dan tidak berlaku pada kelompok lainnya.
Ijtihad tidak berlaku dalam hal penambahan ibadah mahdhah. Sebab ibadah mahdhah itu sudah diatur oleh Allah dan Rasulnya. Ijtihad tidak boleh bertentangan dengan al-Qur'an dan al-Hadits. Oleh karena itu dalam berijtihad hendaknya memperhatikan faktor-faktor motivasi, akibat, kemaslahatan umum, kemanfaatan bersama dan nilai-nilai yang menjadi ciri dan jiwa dari pada ajaran Islam.

Cara Berijtihad.[54]
Dalam melaksanakan ijtihad, para ulama' telah membuat methode-methode antara lain:
a.       Qiyas = Reasoning by analogy, Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu hal yang tidak diterangkan oleh al-Qur'an dan as-Sunnah, dengan dianalogikan kepada hukum sesuatu yang sudah diterangkan hukumnya oleh al-Qur'an/ as-Sunnah, karena ada sebab yang sama. Contoh : Allah berfirma :
ياأيها الذين ءامنوا إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذروا البيع ذلكم خير لكم إن كنتم تعلمون
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.[55]

Ayat di atas melarang melakukan jual beli pada saat mendengan adzan Jum'at. Bagaimana hukumnya dengan perbuatan lainnya di luar adzan Jum'at ? Dalam al-Qur'an maupun al-Hadits tidak dijelaskan, maka hendaknya kita berijtihad dengan jalan analogi, yaitu kalau jual beli dapat mengganggu shalat Jum'at dilarang, maka demikian pula halnya dengan perbuatan lain, yang dapat mengganggu shalat Jum'at, juga dilarang. Contoh lain dari Firman Allah :

وقضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه وبالوالدين إحسانا إما يبلغن عندك الكبر أحدهما أو كلاهما فلا تقل لهما أف ولا تنهرهما وقل لهما قولا كريما
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.[56]

Ayat di atas memberikan informasi, bahwa berkata uf / ah kepada orang tua itu tidak boleh. Maka bukan hanya berkata ah saja yang tidak boleh, melainkan memukul, menyakiti dan sejenisnya kepada orang tua itu tidak boleh.

Pada zaman Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam pernah diberikan contoh dalan menentukan hukum dengan dasar qiyas tersebut. Yaitu ketika Umar bin Khaththab berkata kepada Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam : Hari ini saya telah melakukan suatu pelanggaran, saya telah mencium istri, padahal saya sedang puasa. Tanya Rasulullah: Bagaimana kalau kamu berkumur pada waktu sedang puasa ? Jawab Umar : tidak apa-apa. Sabda Rasul: kalau begitu teruskan puasamu.

b.      Ijma' = konsensus = ijtihad kolektif, Yaitu persepakatan ulama'-ulama' Islam dalam menentukan suatu masalah ijtihadiyah. Ketika Ali bin Abi Thalib mengemukakan kepada Rasulullah tentang kemungkinan adanya suatu masalah yang tidak dibicarakan oleh al-Qur'an dan as-Sunnah, maka Rasul menyatakan: "Kumpulkan orang-orang yang berilmu kemudian jadikan persoalan itu sebagai bahan musyawarah". Yang menjadi persoalan sekarang ini adalah tentang kemungkinan dapat dicapai atau tidaknya ijma  tersebut, karena ummat Islam begitu besar dan berada diseluruh pelosok bumi termasuk para ulamanya.  

c.       Istihsan = preference,Yaitu menetapkan suatu hukum terhadap suatu persoalan ijtihadiyah atas dasar prinsip-prinsip umum ajaran Islam seperti keadilan, kasih sayang dan lain-lain. Oleh para ulama' istihsan sering disebut dengan istilah qiyas khafi (analogi samar-samar) atau disebut sebagai pengalihan hukum yang diperoleh dengan qiyas dengan hukum lain  atas pertinbangan kemaslahatan umum. Apabilakita dihadapkan dengan keharusan memilih satu diantara dua persoalan yang sama-sama jelek, maka kita harus mengambil yang lebih ringan kejelekannya. Dasar istihsan antara lain Firman Allah yang berbunyi:

الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه أولئك الذين هداهم الله وأولئك هم أولو الألباب
Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.[57]

d.      Mashalihul Mursalah = utility, yaitu menetapkan hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiyah atas dasar pertimbangan kegunaan dan kemanfaatan yang sesuai dengan tujuan syari'at.
Perbedaan antara istihsan dan mashalihul mursalah ialah: kalau istihsan mempertimbangkan dasar kemaslahatan itu dengan disertai dalil al-Qur'an dan al-Hadits yang umum, sedang mashalihul mursalah mempertimbangkan dasar kepentingan dan kegunaan dengan tanpa adanya dalil yang tertulis secara eksplisit dalam al-Qur'an maupun as-Sunnah.
Ijtihad pada hakekatnya merupakan realisasi dari sejumlah ayat al-Qur'an yang menyuruh umat Islam untuk menggunakan akal pikiran, melahirkan kemaslahatan masyarakat dan kebaikan manusia.


















Bagian 3
Dakwah Multimedia

Dakwah multimedia[58] merupakan terobosan baru bagi para muballigh untuk dapat melakukan aktivitas dakwah  di beberapa media, mengingat selama ini para muballig kita dalam melakukan dakwahnya hanya sebatas di mimbar saja. Dan kalau ada yang melakukan dakwah di media elektronik atau media cetak, itupun hanya sebagian kecil saja.
Banyak media yang dapat kita jadikan sebagai lahan untuk berdakwah. Dan diantara media-media yang cukup stategis untuk kita jadikan sebagai lahan dakwah pada dewasa ini adalah :

Media Cetak
Media cetak pada era dewasa ini telah bermunculan bagaikan munculnya jamur di musim hujan. Baik majalah, koran ataupun buletin lainnya. Hal ini merupakan wujudnyata dari sebuah era informasi dan keterbukaan.  Oleh sebab itu alangkah baiknya jika para muballigh mampu memanfaatkan media-media cetak yang ada itu sebagai sarana untuk merdakwah.
Melihat persaingan media cetak yang begitu hebat, maka para muballigh kita hendaknya segera menyiapkan diri untuk menjadi penulis-pebulis handal sehingga mampu bersaing dalam amar ma'ruf nahi munkar di bidang mediacetak, mengingat media cetak merupakan media informasi yang cukup banyak peminatnya.
Media cetak yang berkembang selama ini lebih berpegang pada keterbukaan dan kebebasan. Mereka dipacu oleh kebutuhan sensasi, iklan dan kebutuhan bisnisnya. Dan inilah prablem besar bagi para pelaku dakwah selama ini.
Oleh karena itu seorang muballigh yang ingin mengembangkan dakwahnya melalui media cetak harus mendalami metodologi penulisan karya ilmiah terlebih dahulu, sehingga bisa menghasilkan karya tulis yang enak dibaca dan mudah dipahami. Bahkan tidak hanya itu saja, melainkan membuat orang yang membacanya akan tergerak hatinya untuk mengikuti dari apa yang dibacanya.
Banyak para muballigh yang beranggapan bahwa mengarang itu susah, dengan anggapan itu maka banyak para muballigh yang malas melakukan dan lebih senang berdakwah lewat media mimbar. Padahal, sebenarnya dakwah dengan tulisan itu gampang asal memiliki keinginan yang kuat.
Dakwah dengan menggunakan media cetak sebenarnya lebih memiliki nilai plus jika dibandingkan dengan dakwah melalui media mimbar. Jika media mimbar ungkapan isi hati serta fikiran kita hanya mampu didengar satu kali oleh pendengar, sedangkan melalui media cetak dakwah kita dapat dibaca berulang-ulang sampai pembaca puas.

Proses Dakwah Pada Mediacetak
1.  Menentukan Masalah :
Dakwah melalui media cetak, terlebih dahulu harus menentukan masalah sebagaimana menulis karya ilmiah lainnya. Sumber untuk menentukan masalah kita bisa dengan cara banyak mendengar, membaca, berdiskusi, bertanya, mengamati dst.

2.      Menetapkan Tema :
Setelah menemukan masalah dari hasil pengamatan, penelitian, membaca dst sebagaimana di atas, maka perlu menetapkan tema agar apa yang akan ditulis dapat terfokus pada sasaran yang diinginkan.
Seorang penulis yang tidak menentukan tema terlebih dahulu akan glambyar (tidak terarah) apa yang di tulisnya. Tema dalam penulisan karya ilmiah dapat digambarkan sebagaimana fondasi dalam bangunan.
Dalam menetapkan tema hendaknya memperhatikan konsumen/ pembaca dari media cetak yang akan memuatnya. Jika ingin menulis di buletin yang konsumennya itu jama'ah masjid, idealnya tema disesuaikan dengan kondisi jama'ah masjid tersebut. Demikian juga jika ingin menulis di majalah, juga harus di sesuaikan dengan kondisi kosumen dari majalah tersebut. Dst.
Contoh tema" Dampak Bid’ah terhadap KemurnianBeribadah”

3.      Membuat Kerangka :
Agar dalam pembahasan tidak menyimpang dari tema serta sistematis dalam pembahasan, maka setelah menentukan tema harus membuat kerangka terlebih dahulu, sehingga dapat kita jadikan sebagai pijakan dalam penulisan ide-ide yang akan kita sampaikan.
Hal yang tidak boleh kita lupakan dalam menyusun kerangka adalah: Sistematika penyusunan  pembahasan. Sebab suatu tulisan akan enak dibaca jika sistematika pembahasannya beruntutan dan teratur.
Contoh membuat kerangka dari tema di atas :
-          Definisi bid'ah
-          ٍSejarah munculnya bid'ah
-          Faktor penyebab berkembangnya  bid'ah
-          Dampak dari perbuatan bid'ah
-          Upaya menanggulangi bid'ah
-          Kesimpulan
-          Penutup

4.      Kumpulkan Bahan :
Setelah membuat kerangka dengan sistematis yang baik, maka langkah selanjutnya adalah mengumpulkan bahan-bahan sesuai dengan kebutuhan. Misalnya: Ayat-ayat al-Qur'an, Hadits serta buku-buku yang ada kaitannya dengan tema di atas.
Contoh mengumpulkan bahan dari tema di atas :
-          Dari ayat al-Qur'an :
اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.[59]
ما جعل الله من بحيرة ولا سائبة ولا وصيلة ولا حام ولكن الذين كفروا يفترون على الله الكذب وأكثرهم لا يعقلون
Allah sekali-kali tidak pernah mensyari`atkan adanya bahiirah, saaibah, washiilah dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.[60]

قل إني على بينة من ربي وكذبتم به ما عندي ما تستعجلون به إن الحكم إلا لله يقص الحق وهو خير الفاصلين
Katakanlah: "Sesungguhnya aku (berada) di atas hujjah yang nyata (Al Qur'an) dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah wewenangku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.

ورهبانية ابتدعوها ما كتبناها عليهم إلا ابتغاء رضوان الله
Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakan)untuk mencari keridhohan allah”.[61]

-          Dari al-Hadits :
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهورد
Barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada contoh dari-Ku (kata Rasulullah), maka ditolak( oleh Allah)”.
من أحد ث في أمرن هذا ما ليس منه فهورد

Barang siapa yang mengda-adakan dalam ajaran agama Islam ini yang tidak ada sumbernya dari Islam,maka urusan itu ditolak”.[62]

فأحسن الكلام كلام الله، وأحسن الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلام ألا واياكم ومحدثات الأمور، فان شرالأمور محدثتها ، وكل محدثة بدعه، وكل بدعة ضلاله
Sebaik-baik perkataan adalah Kalamullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu 'Alahi wa Sallam. Ketahuilah dan jauhilah dari perkara-perkara yang baru, karena perkara yang paling jelek itu adalah perkara yang baru, Setiap sesuatu yang baru itu bid'ah dan setiap bid'ah itu sesat.[63]

-          Buku-buku yang ada kaitannya dengan bid'ah :

Abdullah bin Abdul Aziz at-Tuwaijiry, Ritual Bid'ah Dalam Setahun, Darul Fatah, Jakarta, 2003

Syaikh Muhammad 'Abdus-salam, Bid'ah-bid'ah yang dianggab Sunnah, Qisthi Press, Jakarta, 2002

Ali Hasan al-Halabi  al-Atsari, Membedah Akar-akar Bid'ah, Pustaka al-Kautsar, Jakarta, 2000

Badruddin Hsubky, Bid'ah-bid'ah di Indonesia, Gema Insani Press, Jakarta, 2002

5.      Pembahasan atau penyusunan[64]

Setelah bahan untuk menulis dianggap cukup, maka langkah selanjutnya adalah  menyusun sesuai kerangka yang sudah kita siapkan.

Definisi Bid'ah
Bid’ah adalah : perkara baru / penyimpangan paham dalam ajaran agama islam dari ketentuan syara’ yang sesungguhnya.[65] Bid’ah juga bisa berarti menjalankan ibadah yang bertentangan dengan perintah Allah Subhanahu Wata’alaa atau tidak ada contoh dari Rasullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam .
 Imam Ath-Thurthusi dalam Al-Hawadits wal Bid’ah berkata, kata bid’ah berasal dari kata al-ikhtira’, yaitu sesuatu yang baru diciptakan tanpa ada contoh sebelumnya[66]. Diantara yang masuk dalam katagori ini adalah firman Allah:
بديع السموات والأرض وإذا قضى أمرا فإنما يقول له كن فيكون 
Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk mencip takan)sesuatu, maka(cukuplah)Dia hanya mengatakan kepadanya: ”Jadilah” Lalu jadilah ia.”[67]

قل ما كنت بدعا من الرسل وما أدري ما يفعل بي ولا بكم إن أتبع إلا ما يوحى إلي وما أنا إلا نذير مبين
Katakanlah:”Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan aku (pula)terhadapmu.Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi pringatan yang menjelaskan”.[68]
ورهبانية ابتدعوها ما كتبناها عليهم إلا ابتغاء رضوان الله
Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakan)untuk mencari keridhohan allah”.[69]

Menurut bahasa, bid’ah adalah:
ما خلق من غير مثال سابق
Segala sesuatu yang diciptakan dengan tidak didahului contoh-contoh (sebelumnya).

البد عة هي عبارة عنطريقة في الدين تضا هي الشر عية يقصد عليها المبا لغة في التعبد لله سبحانه وتعال

Bid’ah ialah suatu ibarat(gerak dan tingkah laku lahir batin)yang bekisar pada masalah-masalah agama(syari’at islamiah).Dilakukannya menyerupai syari’at dengan cara yang berlebihan dalam pengabdian kepada Allah Subhanahu Wata’ala”.[70]

Rasulullah Shallallah’Alahi wa Sallam bersabda:
من أحد ث في أمرن هذا ما ليس منه فهورد
Barang siapa yang mengda-adakan dalam ajaran agama Islam ini yang tidak ada sumbernya dari Islam,maka urusan itu ditolak”.[71]
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهورد
Barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada contoh dari kami,maka tertolak”.[72]

Dari beberapa dasar diatas dapat diambil kesimpulan bahwa;bid’ah adalah segala bentuk aktivitas manusia yang mengatas namakan ibadah atau ajaran agama, tetapi tidak ada contoh dari Nabi Muhammad ٍShallahu ‘Alahi wa Sallam. Sedang aktivitas  manusia yang bukan dan tidak ada kaitannya dengan syari’ah atau ajaran Islam bukan termasuk bid’ah.

Sejarah  munculnya bid'ah
Islam pada zaman Rasulullah Shallallhu ‘Alahi wa Sallam, bagaikan air yang baru keluar dari mata air, begitu jernih dan dapat diminum oleh siapa saja tanpa takut akan adanya volusi. Demikian juga dengan ajaran Islam pada saat itu, begitu bersih dari pengaruh budaya kultural dan berbagai kepentingan dunia. Namun setelah Rasulullah shallallahu ‘Alahi wa Sallam meninggal dunia, Ajaran Islam mulai terkotori beberapa pemahaman yang sesat, tepatnya saat munculnya kelompok murji’ah yang berpandangan bahwa: sumber hukum Islam itu hanya al-Qur’an, sedangkan al-Hadits itu tidak termasuk hukum Islam.
Berawal dari pemahaman kaum khawarij yang salah di atas, maka mulailah terjadi perpecahan pemahaman di dalam Islam. Ditambah munculnya kelompok syi’ah yang mengedepankan imamah dalam segalanya, sehingga ajaran Islam yang  murni itu telah terluka oleh kepentingan politik serta budaya kultural.
Di Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya Islam ini, ajaran Islam juga telah terkotori oleh beberapa budaya kultural Hindu-Buda. Dimana banyak ummat Islam yang dalam menjalankan ibadahnya masih tercampur dengan  budaya animisme dan dinamisme yang pada dasarnya budaya itu milik Hindu-Buda. Misalnya, disaat ada keluarganya yang meninggal dunia mereka harus menyelenggarakan upacara ritual seperti, selamatan tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari dan seterusnya. Hal ini dilaksanakan karena mereka beranggapan bahwa, pada hari itu roh dari keluarganya yang telah meninggal akan berkunjung kerumah.
Kondisi di atas terjadi karena bangsa Indonesia sebelum Islam datang telah kaya dengan budaya animisme dan dinamisme. Faham ini tidak dapat langsung hilang, karena faham ini telah menyatu pada masyarakat saat itu. Sementara itu para saudagar yang membawa ajaran Islam terlalu lentur dalam menerima kondisi masyarakat, sehingga membiarkan kepada para pemeluk agama Islam untuk tetap menjalankan acara ritual yang diyakini sebelumnya.
Melihat cara beribadah ummat Islam yang sudah tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya inilah, maka pada sekitar tahun 1912 M. KH. Ahmad Dahlan mencoba mendirikan organisasi Muhammadiyah dengan tujuan meluruskan kembali ajaran Islam yang selama itu di jalankan oleh ummat Islam.
Niat baik KH. Ahmad Dahlan dalam memberantas tahayyul, bid'ah dan khurafat disambut baik oleh sebagian ulama' yang memiliki komitmen terhadap kemurnian syari'ah Islam. Dan tidak hanya itu saja melainkan KH. Ahmad Dahlan juga berusaha memperbaiki metode pendidikan yang saat itu dipinggirkan oleh kelompok penjajah.
Melihat perkembangan yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan cukup pesat, maka kelompok penjajah Belanda berusaha untuk menghentikan serta menghasud ajaran yang dibawah oleh KH. Ahmad Dahlan dengan memanfaatkan para Kyai tradisional yang tidak memiliki pemikiran maju.
Usaha penjajah dengan memanfaatkan sebagian kyai agar memfitnah KH. Ahmad Dahlan cukup berhasil. Berawal dari sinilah, maka umat Islam terjadi kontroversi pemahafan yang mengakibatkan terjadinya konflik intern pada ummat Islam.
Ummat Islam yang konsisten akan ajaran Islam tetap berusaha menjalankan keyakinannya. Sementara itu sebagian ummat Islam yang lain berusaha mempertahankan ajaran nenek moyangnya dengan tetap menjalankan acara-acara ritual dari faham animisme dan dinamisme.
Dari ummat Islam yang berusaha melestarikan faham animisme dan dinamisme inilah, maka bid'ah itu terus subur dan sulit untuk di hapus dari kenyatakan hidup beribadah sebagian ummat Islam. Dan yang paling membahayakan adalah, bahwa faham-faham animisme itu dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam oleh sebagian ummat Islam.

Faktor penyebab berkembangnya  bid'ah
Islam adalah agama yang sangat sempurna. Kesempurnaan Islam dinyatakan sendiri oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firman-Nya :
اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.[73]
Ayat di atas merupakan ketegasan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang disampaikan kepada hambanya, bahwa Islam itu agama yang sempurna dan tidak perlu disempurnakan lagi. Namun sebagian ummat Islam menganggab, bahwa ajaran Islam itu masih harus disempurnakan lagi. Hal ini terlihat dari model dan cara mereka beribadah.
Para pelaku bid'ah tidak ada yang merasa dirinya adalah pelaku bid'ah. Bahkan mereka menganggab, apa yang dilakukan itu memiliki nilai ibadah. Dari pemahaman yang salah inilah, maka bid'ah itu terus berkembang subur.

Sejarah
Islam sebelum masuk ke Indonesia, bangsa Indonesia sudah memiliki budaya dan corak sendiri, yaitu animisme dan dinamisme. Fahan ini telah mendarah-dading (menyatu) sampai membentuk sikap fanatik. Fanatik keaslian, ketradisian atau kepribumian. Oleh karena kefanatikannya itu, maka walaupun mereka memeluk agama Islam tetap saja menjalankan tradisi sebelumnya.
Diantara faham-faham animisme dan dinamisme yang melekat pada kelompok Islam tradisional adalah: Selamatan hari ke- 3,7,40, 100 dan ke- 1000 disaat ada keluarganya ada yang meninggal dunia. Dan mereka kelompok Islam tradisipnal menganggab ini adalah ajaran Islam.

Ulama' ahlul bid'ah
Para ulama' ahlul bid'ah sengaja tidak menyampaikan, bahwa selamatan hari ke-3,7,40 dan seterusnya itu bid'ah, bahkan merekalah yang memimpin dan melestarikan acara itu, karena dengan melestarikan acara bid'ah, maka statusnya sosial keagamaannya dapat terangkat.
Tidak hanya status sosial keagamaan yang dapat terangkat, melainkan juga kondisi ekonominya. Karena dengan lestarinya bid'ah di kalangan ummat Islam, maka secara tidak langsung kebutuhan untuk hidup dapat teratasi.
Para ulama ahlul bid'ah tidak hanya sekedar pemahaman di atas yang dikembangkan, melainkan juga menyembunyikan sebagaian ajaran Islam dalam rangka untukmemperkuat ekonominya. Misalnya saja tentang delapan golongan yang berhak menerika zakat. Para ulama' ahlul bid'ah mengeluarkan fatwa, bahwa zakat yang tidak di bacakan doa itu tidak syah. Dengan fatwa itulah, maka  setiap orang yang ingin membayar zakat tidak disampaikan kepada delapan orang yang berhak menerima zakat karena dianggap tidak bisa membaca doa, melainkan diberikan kepada kiyai yang bisa membaca doa.

Dampak dari perbuatan bid'ah
Banyak sekali dampak yang ditimbulkan dari perbuatan bid'ah. Diantara dampak yang ditimbulkan adalah:

Tidak diterima ibadahnya:

Rasulullah Shallallah’Alahi wa Sallam bersabda:
من أحد ث في أمرن هذا ما ليس منه فهورد

Barang siapa yang mengda-adakan dalam ajaran agama Islam ini yang tidak ada sumbernya dari Islam,maka urusan itu ditolak”.[74]
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهورد

Barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada contoh dari kami,maka tertolak”.[75]

Dari dua Hadits di atas sangat jelas bahwa siapa saja yang melakukan ibadah dan ibadah itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam, maka ibadah yang dilakukannya di tolak oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Penulis sangat yakin bahwa para ulama' ahlul bid'ah mengetahui tentang Haditas-Hadits di atas, akan tetapi karena Hadits-Hadits di atas dianggap dapat menurunkan jati dirinya sebagai kiyai jika disampaikan, maka Hadits di atas tidak disampaikan atau di sampaikan dengan terjemahan yang sesuai denga nafsunya.

Terjadinya konflik
Adanya konflik pada intern ummat Islam selama ini diantara penyebabnya adalah; kerana perbedaan pemahaman yang ditimbulkan oleh kelompok ahlul bid'ah. Menurut pengamatan penulis selama ini, bahwa kelompok ahlul bid'ah lebih suka bersahabat dengan orang-orang yang beragama non Islam dari pada sesama Muslim tetapi lain faham.
Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kepada seluruh hambanya agar selalu menjaga persatuan serta menghindari terjadinya konflik, sebagaimana firman-Nya:
واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا واذكروا نعمة الله عليكم إذ كنتم أعداء فألف بين قلوبكم فأصبحتم بنعمته إخوانا وكنتم على شفا حفرة من النار فأنقذكم منها كذلك يبين الله لكم ءاياته لعلكم تهتدون
           
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.[76]

Para pelaku bid'ah sering membaca ayat di atas, tetapi mereka enggan melaksanakannya. Mereka lebih suka mengikuti hawa nafsunya dari pada melaksanakan ayat di atas. Hal ini terbukti dengan sulitnya mereka diajak untuk bersatu dalam rangka merapatkan shaf, baik dibidang sosial, ekonomi, politik dan bidang-bidang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala segera membuka hati mereka untuk kembali kepada ajaran yang kaffah.
Selain dua dampak yang coba penulis sebutkan di atas, masih banyak lagi dampak negatif lainnya yang ditimbulkan dari perbuatan bid'ah.

Upaya menanggulangi perbuatan bid'ah
Untuk membasmi habis perbuatan bid'ah dari muka bumi merupakan perbuatan yang sangat sulit. Akan tetapi untuk sekedar mengurangi Insya-Allah ada  jalan. Dan jalan itu diantaranya adalah:

Berdialok dengan pengikut bid'ah
Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kepada hamba-Nya untuk berkumpul, berdialok dalam rangka membicarakan tentang amar ma'ruf nahi munkar. Sebagaimana firman-Nya:
ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.[77]

Berdialok dengan pengikut bid'ah dalam rangka untuk amar ma'ruf nahi mungkar merupakan alternatif untuk mengurangi suburnya bid'ah. Para pengikut bid'ah harus segera menyadari bahwa apa yang dilakukan adalah tidak memiliki dasar dan salah. Sebab selama ini para pengikut bid'ah melakukannya karena mereka menganggap itu benar.

Membuat buletin
والقلم وما يسطرون
Demi kalam dan apa yang mereka tulis,[78]

Menulis di buletin juga merupakan alternatif untuk mengingatkan kepada para pelaku bid'ah tanpa harus berdialok secara langsung. Di buletin kita bisa menunjukkan dalil-dalil cara beribadah yang sesuai dengan sunnah,  kita juga bisa menunjukkan dampak dari ibadah yang dilakukan tanpa dasar dan dan lain-lainnya, yang sekiranya para pengikut bid'ah dapat menyadari bahwa apa yang dilakukan itu salah.

Menegur langsung
Menegur secara langsung kepada para pelaku bid'ah merupakan perbuatan yang nekat, apalagi kepada para ulama' ahlul bid'ah !. Sebab mereka rata-rata para pengikut bid'ah akan marah besar jika ditegur bahwa apa yang dilakukan itu adalah bid'ah.
Para pelaku bid'ah pada umumnya tidak mau diingatkan walaupun ditunjukkan dalilnya sekalipun. Kenapa demikian ?
لهم عن التذكرة معرضين
Mereka berpaling dari peringatan (Allah)?",[79]

Melihat ayat di atas,maka sulitlah kiranya mereka untuk diajak kembali kepada syari'ah yang sebenarnya. Hanya Allah-lah yang mampu bisa membuka hati mereka.

Kesimpulan
Bid'ah adalah segala aktivitas yang menamakan diri ibadah, tetapi tidak ada contoh langsung dari Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam. Dan barang siapa yang melakukannya sia-sia disisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
البد عة هي عبارة عنطريقة في الدين تضا هي الشر عية يقصد با لسلوك عليها المبا لغة في التعبد لله سبحانه وتعال

Bid’ah ialah suatu ibarat(gerak dan tingkah laku lahir batin)yang bekisar pada masalah-masalahagama(syari’at islamiah).Dilakukannya menyerupai syari’at dengan cara yang berlebihan dalam pengabdian kepada Allah Subhanahu Wata’ala”.[80]
من أحد ث في أمرن هذا ما ليس منه فهورد

Barang siapa yang mengda-adakan dalam ajaran agama Islam ini yang tidak ada sumbernya dari Islam,maka urusan itu ditolak”.[81]
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهورد

Barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada contoh dari kami,maka tertolak”.[82]

Radio
Radio merupakan media informasi yang hingga sekarang masih memiliki cukup banyak pemirsa. Mengingat radio merupakan alat informasi yang fleksibel, kecil dan dapat dibawa kemana-mana. Oleh sebab itu alangkah bermanfaat jika radio penuh dengan siaran-siarang yang mengajak kepada pemirsa untuk menjalankan kebaikan serta meninggalkan keburukan (amar ma'ruf nahi munkar )
Pesawat radio sering kali kita jumpai semalam suntuk di warung-warung kopi, pos-pos jaga serta mobil-mobil, bahkan tidak jarang tukang becak selalu memutar radio sambil menunggu penumpang. Oleh sebab itu alangkah bermanfaatnya jika radio-radio yang diputar selalu membawa pesan dakwah.
Sebelum menyampaikan ceramah di studio yang telah disediakan, maka seorang muballig hendaknya berada ditempat 15-30 menit sebelum acara dimulai. Waktu 15-30 menit tersebut dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan operator radio dan juga kepada petugas lainnya sehingga ketika siaran tidak mengalami kendala yang berkaitan dengan waktu.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan,yaitu:

Isyarat:    Seorang operator akan memberi isyarat/ tanda dimulainya ceramah kepada seorang muballigh yang akan menyampaikan ceramahnya, dengan tujuan agar ada kesamaan antara pihak operator sebagai pengatur fasilitas dan muballig sebagai pengisi acara.

Waktu:  Walaupun dari operator telah memberikan isyarat/tanda mulai dan mengakhiri ceramah, namun bagi seorang muballigh tetap harus mengetahui waktu yang telah disediakan, sehingga dengan mengetahui waktu yang telah disediakan seorang muballigh tidak terkejut ketida operator memberikan isyarat waktu telah habis.

Materi:       Materi yang disampaikan hendaknya sesuai dengan waktu yang telah disediakan. Agar materi yang disampaikan dapat disampaikan secara sistematis, maka sebaiknya seorang muballigh membuat kerangka materi terlebih dahulu.
Ceramah di radio sebenarnya lebih gampang jika dibandingkan dengan ceramah di mimbar atau di media lainnya. Sebab, ceramah di radio sie penceramah dapat membuka buku tanpa ada yang memperhatikan. Boleh menyampaikan materi dengan duduk atau berdiri terserah penceramahnya karena di studio tidak ada yang memperhatikan sebagaimana ceramah di tempat umum.

Televisi
Televisi merupakan media informasi sekaligus media hiburan yang dapat di jumpai dimana-mana, baik di rumah kecil maupun di rumah mewah, baik di warung-warung kopi maupun di restauran-restauran.
Televisi merupankan media informasi yang bersifat netral, seperti pistol. Jika pistol di tangan orang jahat, maka pistol akan gunakan untuk menembak orang yang tidak bersalah. Namun jika pistol itu ditangan polisi yang beriman dan bijak, maka pistol itu akan digunakan untuk melindungi orang-orang berada padapihak yang benar.
Televisi merupakan media audio-visual, yang juga sering disebut sebagai media pandang dengar. Artinya televisi itu selain dapat kita dengar juga bisa kita lihat secara langsung. Oleh sebab itu alangkah besar manfaatnya jika televisi itu lebih banyak menyuguhkan siaran-siaran yang mampu merubah kondisi pemirsa dari kondisi yang tidak baik menjadi kondisi yang lebih baik.
Para pemirsa televisi tidak sesantai pendengar radio. Jika pendengan radio dapat menikmati acara dengan tidur-tiduran, jalan-jalan, baca koran dll. Akan tetapi pemirsa televisi tidak bisa, menginat televisi merupakan media yang meniliki komunikasi masa, yaitu berlangsung satu arah.
Diantara acara-acara televisi yang dapat kita jadikan sebagai media dakwah adalah:



Ceramah
Seorang muballigh yang hendak tampil di depan camera televisi, hendaknya menyesuaikan diri dengan karakteristik kamera serta peralatan (lighting) yang tersorot kewajahnya. Bagi muballigh pemula, yang tidak terbiasa berbicara di bawah sorotan cahaya lampu yang ribuan watt dan didepan camera peralatan studio yang modern itu, maka dapat membuat kikuk, grogi dalam menyampaikan ceramahnya.
Di depan camera televisi hendaknya seorang muballigh tidak perlu menggunakan naskah. Karena untuk menghindari kebingunan akan dibantu dengan idiot boat, yaitu pointers yang akan dibahas yang dituliskan dalam kartu-kartu besar yang berada dihadapan seorang muballigh.
Menyampaikan ceramah di media televisi ini, harus mampu mengendalikan fleksibilitas suaranya, juga bahasa tubuh (body language) , yaitu: ekpresi wajah dan gerak gerik anggota tubuh lainnya. Selain itu juga tidak kalah pentingnya adalah: seorang muballigh harus mampu penampilkan pribadi yang menyenangkan, suara yang menarik, serta raut wajah yang serasi.
Untuk menghindari kegugupan serta hal lainnya, seorang muballigh yang sedang berada di depan camera hendaknya menganggap camera sebagai jama'ah, pendengar (mustami') langsung yang bisa diajak untuk komunikasi.

Film :
Film dapat memberikan pengaruh yang cukup besar kepada jiwa manusia yang sedang memirsanya. Di saat sedang menonton film, terjadi suatu gejala yang menurut ilmu jiwa sosial sebagai identifikasi psikologis. Ketika proses decoding terjadi, para penonton kerap menyamakan atau meniru seluruh pribadinya dengan salah seorang peran film.
Melihat pengaruh film begitu besar kepada jiwa yang sedang menontonnya, maka alangkah besar manfaatnya film itu, jika dijadikan sebagai media untuk berdakwah.
Arifin Ilham merupakan salah satu dari sekian banyak muballigh yang mampu menerobos dunia perfilman dalam menyampaikan misi dakwahnya. Alangkah indahnya jika setiap film-film yang ditayangkan itu membawa nilai dakwah.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan sebagai pemula dakwah dimedia film, yaitu dengan mencoba menggunakan handycam yang dapat diperoleh dengan menyewa. Sedangkan tahapan memulainya sebagai berikut:
1.      Mencari tema yang paling actual
2.      Membuat scenario-nya.
3.      Menyusun shooting script untuk memudahkan pengarahan kepada juru kamera beserta kru lainnya.
4.      Melakukan casting, yaitu mencari pemain sesuai dengan tuntutan scenario.
5.      Mencari lokasi shooting yang mudah dijangkau dan tidakmemakan biaya tinggi.
6.      Melakukan preparation (persiapan), yaitu mengecek seluruh komponen produksi, mulai dari scenario, izin lokasi, kendaraan, mengecek ulang peralatan shooting yang akan digunakan, menyiapkan perlengkapan P3 K, menyiapkan gen set untuk keperluan listrik/lampu, menyiapkan papan taje one (klepper), menyiapkan alat tulis untuk mencatat setiap adegan, menyediakan laporan shooting, membuat reflector buatan sendiri yang meratakan cahaya.
7.      Setelah shooting selesai, melakukan pengecekan kembali melalui play back, untuk mengetahui ada atau tidaknya scene yang terlewat.
8.      Selanjutnya dilakukan editing.
9.      Menyiapkan computer sesuai dengan kebutuhan editing.
10.  Sutradara mendampingi editor.
11.  Mengecek kembali hasil editing untuk menyelaraskannya dengan scenario.
12.  Hasil dari semua proses, master dimasukkan kedalam bentuk CD
13.  Melakukan promosi dan perjunjukan karya, keberbagai tempat dan kesempatan
14.  Siap menerima kritik dari berbagai pihak, sebagai masukan berharga untuk perbaikan.
15.  Menyimpan master film tersebut, jika suatu saat ada festival, siap mengikutinya.
16.  Jika ada perusahaan film yang berminat membesarkan, maka saat yang tepat untuk membuat yang lebih baik dan tentunya dengan biaya yang lebih mahal.

Iklan :
 Iklan yang ada dewasa ini, baik di media cetak maupun di media elektronik lebih menonjolkan kemaksiatan dengan menampilkan wanita-wanita buka aurat dari pada menutupnya.
Iklan merupakan salah satu bentuk acara di beberapa media yang dapat muncul kapan saja. Sebab iklanlah yang memegang peranan dalam pemunculan suatu acara. Iklan bisa muncul di saat orang sedang asyik nonton film, senetron, berita dan dan acara-acara lainnya. Kenapa demikian ? Karena iklan merupakan sumber dana dari setiap acara yang sedang ditayangkan.
Alangkah bermanfaatnya jika iklan-iklan yang muncul pada setiap acara itu membawa nilai dakwah ! Mungkinkah itu terjadi ! Mungkin saja, jika para pengusaha muslim peduli terhadap dakwah Islam.
Ada beberapa tahapan yang dapat dilakukan:
1.      Mendata para pengusaha Muslim kelas menengah ke atas
2.      Membuat tema iklan yang aktual.
3.      Mendatangi pengusaha Muslim yang kita pilih dengan membawa proposal rencana kegiatan.
4.      Mengadakan perjanjian/ kesepakatan bentuk iklan yang akan ditayangkan.

Dialok Interaktif
Membuka acara dialok interaktif agama Islam di media elektronik merupakan bentuk dakwah yang cukup memiliki nilai keterbukaan, sebagaimana yang dilakukan oleh para muballigh kita setiap acara buka puasa atau acara santap saur di bulan Ramadhan.
Acara sebagaimana di atas akan lebih bermakna jika mampu ditayangkan pada waktu-waktu istirahat, seperti siang hari pukul 12.00-13.00, malam hari pukul  19.30-20.30, atau waktu waktu lain yang sekiranya waktu itu betul-betul dimanfaatkan oleh banyak orang untuk menonton acara televisi.
Agar dialok interaktif dapat berjalan dengan lancar dan terkesan hidup, maka perlu disiapkan terlebih cahulu calon-calon penanya dengan model-model pertanyaan yang begitu variatif

Celluler
Celluler merupakan media informasi yang cukup canggih dan gaul. Hal ini nampak dari begitu banyaknya pemakai celluler, mulai dari pengusaha kelas atas hingga pengusaha kelas bawah, bahkan tidak sedikit para remaja pengangguranpun, pelajar yang mereka belum memiliki panghasilan yang  menggunakan celluler.
Melihat begitu semaraknya celluler, maka alangkah besar manfaatnya jika celluler dimanfaatkan sebagai media dakwah, yaitu dengan cara memanfaatkan fasilitas Multimedia Messaging Service (MMS) sebagai media untuk mengirin pesan-pesan normatif . Dengan ber-mms- kita dapat berdakwah dengan biaya yang murah.

Proses Dakwah di Media Celluler
-          Mencari informasi sebanyak-banyaknya sasaran dakwah. Misalnya; Nama-nama orang yang pantas untuk kita kasih nasihat (pejabat yang korupsi, ketua geng, teman yang gemar melakukan perbuatan dosa, dst)
-          Mencatat nomor teleponnya dengam teliti agar tidak sampai salah tujuan
-          Mengklasifikasikan nomor telepon yang sudah kita catat sesuai dengan nasihat yang akan kita sampaikan. Dengan harapan agar pesan kita tidak sampai salah alamat.
-          Menulis pesan sesuai dengan sasaran

Contoh pesan dakwah yang dapat disampaikan :
-          Kepada para pejabat yang suka korupsi
  "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah "

-          Kepada para geng/ mafia :
" Ingat !  semua perbuatan kita di dunia akan dimintai pertanggung jawapan di akhirat"

-     Kepada teman-teman kita yang gemar melakukan perbuatan dosa :
" Allah akan memberikan ketenangan kepada hambanya yang suka beramal shaleh"












Bagian 4
Dakwah Perpsektif  al-Qur'an

Dakwah merupakan bagian dari Islam yang tidak bisa dipisahkan. Penulis menggambarkan dakwah itu sebagaimana  roda kendaraan. Bagaimanapun baiknya kendaraan itu, jika rodanya tidak berfungsi, maka kendaraan yang baik itu tidak bisa berfungsi sebagaimana kendaraan. Demikian halnya dengan dakwah dalam Islam.
Dakwah merupakan roda dalam Islam yang tidak boleh berhenti. Sebab jika dakwah sebagai roda itu berhenti, maka Islam sebagai agama rahmatal lil'alamin itu akan mengalami kebekuan dan tidak dapat berfungsi lagi sebagaimana mobil yang bagus dan mahal tetapi tidak memiliki roda.[83]

Klasifikasi ayat-ayat dakwah dalam al-Qur'an
Kewajiban bagi setiap manusia untuk berdakwah
Dakwah bukan hanya kewajiban bagi seorang muballigh sebagaimana anggapan sebagaian orang, melainkan kewajipan semua manusia yang beriman kepada-Nya. Ayat-ayat dibawah ini menunjukkan bahwa setiap manusia mempunyai kewajipan untuk menyampaikan amar-ma'ruf nahi-munkar .
Dakwah yang merupakankewajiban bagi setiap Muslim

ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين
 Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.[84]
ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”[85]

كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله ولو ءامن أهل الكتاب لكان خيرا لهم منهم المؤمنون وأكثرهم الفاسقون
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” [86]
Dari beberapa teks ayat di atas, maka dakwah harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh dengan menggunakan metodologi serta strategi yang benar, agar dakwah yang dilakukan dapat berhasil dengan maksimal.

Dalam berdakwah harus memiliki kekuatan, bagaikan pohon yang berakar bukan pohon yang rapuh
Menyampaikan ayat Allah maupun Hadits Nabi bukan persoalan yang gampang, berbagai macam tantangan telah menghadangnya. Oleh karena itu agar dakwah yang kita lakukan mampu menerobos tantangan-tantangan yang menghadangnya, maka diperlukan sebuah kekutan yang cukup. Sebagaimana ayat-ayat yang kami kutip dibawah ini:

ألم تر كيف ضرب الله مثلا كلمة طيبة كشجرة طيبة أصلها ثابت وفرعها في السماء
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit”. [87]
تؤتي أكلها كل حين بإذن ربها ويضرب الله الأمثال للناس لعلهم يتذكرون
pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”.[88]
ومثل كلمة خبيثة كشجرة خبيثة اجتثت من فوق الأرض ما لها من قرار
Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun”.[89]
يثبت الله الذين ءامنوا بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة ويضل الله الظالمين ويفعل الله ما يشاء
Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki”.[90]

Dalam berdakwah perlu di susun barisan atau organusasi
Kita sering mendengar dari para da'i kita, bahwa kemungkaran/ kemaksiatan yang terorgasisir akan dapat mengalahkan kema'rufan/ kebaikan yang tidak terorganisir. Oleh karena itu agar  dakwah kita dapat berhasil serta berjalan dengan lancar, maka perlu adanya organisasi yang tertata dengan rapi dan baik. Sebagaimana Firman Allah :
إن الله يحب الذين يقاتلون في سبيله صفا كأنهم بنيان مرصوص
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”.[91]
والصافات صفا فالزاجرات زجر فالتاليات ذكرا
Demi (rombongan) yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya, dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan ma`siat), dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran”.[92]

Seorang muballigh/ juru dakwah  harus memiliki jiwa pemaaf
Salah satu faktor keberhasilan dakwah Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam adalah terletak pada sikap pemaaf serta kesabaran dalam menghadapi lawan-lawannya ketika sudah tidak berdaya.
قل للذين ءامنوا يغفروا للذين لا يرجون أيام الله ليجزي قوما بما كانوا يكسبون
Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut akan hari-hari Allah karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.[93]

Dakwah merupakan media untuk menyampaikan ayat-ayat Allah / peringatan-peringatan Allah
Dakwah pada dasarnya adalah menyampaikan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Hadits Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam. Olehkarena itu dakwah harus kita lakukan dengan cara yang baik dan benar. Namun tidak sedikit para da'i kita yang dalam menyampaikan dakwah itu justru dengan main-main, nglucu, nlawak yang akhirnya para jama'ah lebih terkesan dengan nglawaknya dari pada materi dakwah yang disampaikan.
ما على الرسول إلا البلاغ والله يعلم ما تبدون وما تكتمون

Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan”.[94]

ياأيها الذين ءامنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا وقودها الناس والحجارة عليها ملائكة غلاظ شداد لا يعصون الله ما أمرهم ويفعلون ما يؤمرون
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.[95]

وأن احكم بينهم بما أنزل الله ولا تتبع أهواءهم واحذرهم أن يفتنوك عن بعض ما أنزل الله إليك فإن تولوا فاعلم أنما يريد الله أن يصيبهم ببعض ذنوبهم وإن كثيرا من الناس لفاسقون

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”.[96]
وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfa`at bagi orang-orang yang beriman”. [97]

Dalam berdakwah hendaknya menggunakan bahasa yang mudah dimengerti
Salah satu faktor diterimanya dakwah kita dilingkungan masyarakat adalah, bahasa yang kita gunakan. Misalnya dakwah dilingkungan masyarakat Jawa perdesaan, maka bahasa yang paling cocok adalah bahasa Jawa. Demikian juga jika dakwah di lingkungan masyarakat Madura, maka bahasa yang paling tepat adalah bahasa Madura. Dst.
كما أرسلنا فيكم رسولا منكم يتلو عليكم ءاياتنا ويزكيكم ويعلمكم الكتاب والحكمة ويعلمكم ما لم تكونوا تعلمون
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”.[98]
وما أرسلنا من رسول إلا بلسان قومه ليبين لهم فيضل الله من يشاء ويهدي من يشاء وهو العزيز الحكيم
Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”.[99]



Dalam berdakwah tidak boleh memaksa
Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak pernah menyuruh kepada Rasul-rasul-Nya agar memaksa kepada umatnya untuk mengikuti agama tauhid, melainkan semua Rasul diutus oleh Allah agar menyampaikan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.
لا إكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى لا انفصام لها والله سميع عليم
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.[100]
ولو شاء ربك لآمن من في الأرض كلهم جميعا أفأنت تكره الناس حتى يكونوا مؤمنين
Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya”.[101]

Dalam berdakwah tidak boleh terlalu berharap, bahwa yang didakwahi pasti mengikuti dan beriman
Seorang da'i tidak  boleh putu asa ketika dakwahnya itu tidak diteria oleh masyarakat. Karena yang menentukan berhasil dan tidaknya dalam berdakwah itu hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seorang da'i hanya berkewajiban menyampaikan sedangkan hidayah Allah yang menentukan.
وما أكثر الناس ولو حرصت بمؤمنين
Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman --walaupun kamu sangat menginginkannya”. [102]

قل هذه سبيلي أدعو إلى الله على بصيرة أنا ومن اتبعني وسبحان الله وما أنا من المشركين
Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".[103]

Sebagian manusia tidak memperdulikan dahwah/ ajakan kembali kepada ayat-ayat Allah
Orang-rang kafir telah ditutup oleh Allah hati, telinga dan pendengarannya. Namun demikian bukan berarti kita sebagai seorang Muslim harus berhenti memberitahukan kepada mereka bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu adalah salah.
فما لهم عن التذكرة معرضين
Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?",[104]

ولقد يسرنا القرءان للذكر فهل من مدكر
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?[105]

ختم الله على قلوبهم وعلى سمعهم وعلى أبصارهم غشاوة ولهم عذاب عظيم
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.[106]

وما تأتيهم من ءاية من ءايات ربهم إلا كانوا عنها معرضين
Dan tak ada suatu ayatpun dari ayat-ayat Tuhan sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya (mendustakannya).[107]

Dalam berdakwah tidak boleh memasang tarif
Bagi seorang da'i tidak diperkenankan memasang tarif/ harga ketika hendak menyampaikan ceramahnya. Karena dengan menentukan harga sama dengan menjual ayat-ayat Allah yang hendak disampaikan. Namun demikian bukan berarti menolak jika diberi transpot, mengingat dalam berkakwak pada kondisi dewasa ini juga membutuhkan biaya yang cukup banyak. Selain biaya transportasi yang cukup mahal juga biaya literatur yang juga tidak murah. Dengan demikian wajarlah jika seorang da'i menerima uang transpot dari panitia atau pengurus masjid, asal tidak memasang tarif.
ويا قوم لا أسألكم عليه مالا إن أجري إلا على الله وما أنا بطارد الذين ءامنوا إنهم ملاقو ربهم ولكني أراكم قوما
Dan (dia berkata): "Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui".[108]

ياقوم لا أسألكم عليه أجرا إن أجري إلا على الذي فطرني أفلا تعقلون
Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini, Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan (nya)?[109]
قل ما أسألكم عليه من أجر إلا من شاء أن يتخذ إلى ربه سبيلا
Katakanlah: "Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.”[110]

ذلك الذي يبشـر الله عباده الذين ءامنوا وعملوا الصالحات قل لا أسألكم عليه أجرا إلا المودة في القربى ومن يقترف حسنة نزد له فيها حسنا إن الله غفور شكور
Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan". Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”[111]

Tantangan dalam berdakwah
Menyampaikan kebenaran itu tidak semudah kita membalikkan telapak tangan. Rasulullah sendiri dalam menyampaikan dakwahnya juga penuh dengan tantangan, baik dari masyarakat sekitar maupun dari kerabatnya. Oleh karena itu kita tidak boleh bersedih ketika dakwah kita ditolak oleh sebagaian umat.
فلعلك باخع نفسك على ءاثارهم إن لم يؤمنوا بهذا الحديث أسفا
Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur'an)”.[112]
ولقد صرفنا في هذا القرءان ليذكروا وما يزيدهم إلا نفورا
Dan sesungguhnya dalam Al Qur'an ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).”.[113]

ولقد صرفنا للناس في هذا القرءان من كل مثل فأبى أكثر الناس إلا كفورا
Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Qur'an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya)”.[114]

قل لا يستوي الخبيث والطيب ولو أعجبك كثرة الخبيث فاتقوا الله ياأولي الألباب لعلكم تفلحون
Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan."[115]

وقالوا لولا يأتينا بآية من ربه أولم تأتهم بينة ما في الصحف الأولى
Dan mereka berkata: "Mengapa ia tidak membawa bukti kepada kami dari Tuhannya?" Dan apakah belum datang kepada mereka bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu?[116]



Bagian kelima
KESIMPULAN dan PENUTUP

Kesimpulan
Dakwah multimedia merupakan terobosan baru bagi para muballigh untuk dapat melakukan aktivitas dakwah  di beberapa media, mengingat selama ini para muballig kita dalam melakukan dakwahnya hanya sebatas di mimbar saja. Dan kalau ada yang melakukan dakwah di media elektronik atau media cetak, itupun hanya sebagian kecil saja.
Banyak media yang dapat kita jadikan sebagai lahan untuk berdakwah. Dan diantara media-media yang cukup stategis untuk kita jadikan sebagai lahan dakwah pada dewasa ini adalah: Televisi, Internet, Radio, Koran, Majalah, Celluler dan masih banyak lagi.
Untuk dapat melakukan dakwah dengan menggunakan multimedia banyak yang menduka sangat sulit. Hal ini karena waktu, pelaku, biaya yang dibutuhkan relative banyak. Namun pada dasarnya kalau kita punya niat, sebenarnya dengan biaya yang relative murahpun bisa, yaitu dengan cara dikemas sesederhana mungkin.
Dakwah yang banyak dilakukan selama ini oleh mayoritas muballigh adalah masih menggunakan media tradisionsl, seperti dakwah yang dilaksanakan dengan menggunakan mimbar dan yang mendengarkan hanya sebatas yang hadir saja. Dan adalagi sebagaian ummat Islam yang melakukan dakwahnya harus masuk dari rumah kerumah-rumah.
Sudah saatnya bagi para muballigh kita untuk menyampaikan ajaran Islam dengan menggunakan tekhnologi komunikasi dan tekhnologi informasi yang saat ini lagi semarak.

Penutup
Buku yang ada ditangan anda ini merupakan bentuk kepedulian penulis terhadap ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang berbunyi :

ادع إلى سـبيل ربك بالحكـمة والموعـظة الحسـنة وجادلهم بالـتي هي أحسـن إن ربك هو أعـلم بمن ضـل عن سـبيله وهو أعـلم بالمـهتدين
 Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.[117]

Ayat di atas jelas bahwa, tidak semua menyampaikan sesuatu itu bisa disebut dakwah. Tetapi yang disebut dakwah adalah; menyampaikan sesuatu dengan cara yang hasanah dan metode bih hikmah.
Semoga buku yang sedang anda baca ini dapat memberikan sumbangan kepada anda untuk menambah wawasan baru di dunia dakwah. Dan akhirnya semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan petunjuk serta hidayah kepada kita semua, sehingga kita semua dapat menjalankan segala apa yang telah diperintahkan dan menjahui apa yang dilarang.






[1] Balai Pustaka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi II, Jakarta, 1995.hal. 205
[2] Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, Logos, Jakarta, 1997.hal. 31
[3] QS. 16: 125
[4] Pius A Partanto, M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, Penerbit Arkola Surabaya, Surabaya, 1994, hal. 461.
[5] Abdul karim, Dakwah Kultural Menurut Tokoh Muhammadiyah, PPs. Unmuh Malang, Malang, 2003, hal. 5
[6] QS. 11: 29
[7] Dalam riwayat Rasulullah jika khutbah membawa tombak, mengingat kondisi saat itu adalah kondosi siaga. Sedangkan sekarang adalah kondisi aman yang dari segi manfaat dan kondisi sudah kurang tepat. Tetapi juga tidak dilarang  jika ada yang  ingin menggunakan tombak/ tongkat.
[8] Muhammad Salam Madzkur, Ushul Fiqih, Darun Nahdlatul ‘Arabiyah, Kairo, 1976, hal. 95
[9] Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, Dunia Ilmu, Surabaya, 2000, hal. 4
[10] QS. 75: 17-18
[11] Abdul Djalal, Opcid, hal. 6
[12] QS. 21: 107
[13] QS. 17: 88
[14] QS. 2: 23-24
[15] QS. 26: 192-195
[16] QS. 2: 43
[17] QS. 4: 3
[18] QS. 4:58
[19] QS. 2:275
[20] QS. 2:282
[21] QS. 2:180
[22] QS. 3:159
[23] QS.4:9
[24] QS.2:178
[25] QS.7:158
[26] QS.34:28
[27] QS. 2: 23-24
[28] QS.15:9
[29] QS.75:17-19
[30] Dikutip dari buku Miftah Farid, Pokok-Pokok Ajaran Islam, Penerbit Pustaka, Bandung, 1995, hal. 12-13.
[31] Nawir Yuslem, Ulumul Hadits, Mutiara Sumber Widya, Jakarta, 1998. hal. 31
[32] Shubhi al-Shalih, 'Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu, Beirut, Dar al-'Ilm li al-Malayin, 1973, hal. 3-4
[33] M. Jamal al-Din al-Qasim, Qawai'id al-Tahdits, Kairo, al-Babi al-Halabi, 1961, hal. 62
[34] Muammad Fu'ad 'Abd ' al-Baqi, Al-Mu'jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur'an al-Karim, Dar al-Hadits, Kairo, 1987, hal. 195
[35] Muhammad al-Thahhan, Taisir Mushthalah al-Hadits, Beirut, 1979, hal. 14
[36] 'Abbas Mutawalli Hamadah, Al-Sunnah al-Nabawiyah wa Makanatuha fi al-Tasyri', Kairo, Dar al-Qawmiyyah, tt., h. 13.
[37] QS.17:77
[38] QS. 18:55
[39] HR. Muslim, Ibnu Majah dan Al-Darimi.
[40] QS. 33:21
[41] Mushthafa al-Siba', Al-Sunnah wa Makanatuha fi Tasyri' al-Islami, Kairo, Dar-al-Urubah, 1961. h. 61
[42] QS.4:136
[43] QS.4:80
[44] QS.4:59
[45] QS.3:179
[46] QS.53:3-4
[47] Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadits, Beirut, dar-al-Fikr, 1414H./ 1993 M., hal. 49-50.
[48] HR. Bukhari, Shahih Bukhari, Juz I, hal. 8. Juga Muslim, Shahih Muslim, Juz I, hal. 32. Juga diriwayatkan oleh Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, Juz 4, hal. 275. Juga Nasa'i, Sunan al-Nasa'I, Juz 8, hal. 111-112.
[49] HR. Bukhari, Shahih Bukhari, Juz. I, hal. 155
[50] HR. Bukhori, Shahih Bukhori, juz 6, hal. 128. Juga diriwayatkan oleh Muslim, Shahih Muslim, Juz. I, hal. 645.
[51] QS.4: 23
[52] QS.4: 24
[53] QS.4:59
[54] Diambil dari bukunya Miftah Faridi, Pokok-pokok ajaran Islam, Penerbit Pustaka, Bandung, 1995, hal. 47-49
[55] QS.Jum'ah:9
[56] QS.17:23
[57] QS.39:18
[58] Menyampaikan ayat-ayat Allah dan Sunnah Rasulullah serta ijtihad para ulama' dengan melalui banyak media, berbagai macam sarana perantara, berbagai jenis sarana.
[59] QS. 5: 3
[60] QS.3: 103
[61] QS. Al-Hadid: 27
[62] HR. Bukhori Muslim  dari Aisyah
[63] Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam Sunan-nya I hal 18 pada bagian muqaddimah. Hadits ini derajatnya marfu' hingga sampai pada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alahi wa Sallam.
[64] Dalam pembahasan ini penulis tidak menguraikan secara detail, mengingat ini hanya sekedar contoh tahapan dalam menulis/ dakwah di mediacetak. Para pembaca dapat mencontoh dari segi tahapannya, tetapi dari segi materi lebih baik jika disesuaikan dengan media yang di jadikan tempat untuk menulisnya. Misalnya, ingin menulis di buletin, majalah atau koran maka idealnya di sesuaikan.
[65] Opcid, hal. 72
[66] Lihat, Lisan Al-Arab (IX: 351), Maqayis Al-Lughoh (I:209) dan Qamus Al-Muhith, hal. 906
[67] QS. Al-Baqarah: 117
[68] QS. Al-Ahqaf: 9
[69] QS. Al-Hadid: 27
[70] Syekh Aly Mahfudh, Al-Ibda fi Madharil Ibtida, Al-Azhar Kairo, tt., hal.66, cet. VII
[71] HR. Bukhori Muslim  dari Aisyah
[72] HR. Muslim
[73] QS. 5: 3
[74] HR. Bukhori Muslim  dari Aisyah
[75] HR. Muslim
[76] QS.3:103
[77] QS.3:104
[78] QS.68:1
[79] QS.74:49
[80] Syekh Aly Mahfudh, Al-Ibda fi Madharil Ibtida, Al-Azhar Kairo, tt., hal.66, cet. VII
[81] HR. Bukhori Muslim  dari Aisyah
[82] HR. Muslim
[83] Penulis tidak bermaksud menyamakan antara Islam dengan mobil, melainkan hanya memberikan gambaran jika dakwah itu tidak berjalan.